“DUNIA TENGAH DALAM I LAGALIGO: MENATA RUANG,MENJAGA KESEIMBANGAN KEHIDUPAN”

Deskripsi gambar untuk SEO DEWAN PENGURUS PUSAT LASKAR 99 BAWAKARAENG Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun Ibu Aliyah Mustika Ilham Wakil Wali Kota Makassar yang ke-57 Tahun -30 Maret 2026-

 

OPINI – KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com– Kadang kita, baik masyarakat maupun pemerintah, memandang ruang, wilayah, dan khususnya kota hanya sebagai tempat untuk mendirikan bangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi, arena politik, serta memperluas kawasan perkotaan. Padahal kota tidak hanya sekadar ruang fisik. Kota merupakan ruang interaksi antarmanusia,penyimpan nilai sejarah dan budaya, tempat hidup dan mencari nafkah, serta wadah berlangsungnya berbagai aktivitas sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang saling berkaitan.

Ketika ruang hanya dipandang sebagai objek pembangunan fisik, sering kali terjadi ketidakseimbangan dalam pemanfaatan dan pengelolaan ruang. Akibatnya, pembangunan lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kawasan terbangun, sementara fungsi sosial dan ekologis ruang menjadi terabaikan. Padahal, ruang memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat berdirinya bangunan. Salah satu contohnya adalah alih fungsi lahan terbuka dan kawasan resapan air menjadi kawasan perumahan, permukiman, perdagangan, dan berbagai bentuk pembangunan lainnya. Lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air dan penyangga lingkungan berubah menjadi kawasan terbangun yang kedap air. Akibatnya, daya dukung lingkungan menurun, kapasitas resapan air berkurang, risiko banjir meningkat, dan kualitas lingkungan perkotaan mengalami degradasi.

Padahal, jauh sebelum konsep pembangunan modern dikenal, Dalam naskah I La Galigo telah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan. Dalam kosmologi I La Galigo, alam semesta dipahami terdiri atas tiga lapisan kehidupan, yaitu dunia atas (langit), dunia bawah (air), dan dunia tengah (dunia manusia). Dunia manusia menempati posisi penting sebagai penghubung sekaligus penyeimbang antara dunia atas dan dunia bawah. Dengan demikian, manusialah yang memegang peran utama dalam menjaga harmoni dan keseimbangan alam.

Dari perspektif budaya, para leluhur juga mewariskan kepada kita tentang nilai nilai penghormatan terhadap alam. Kehidupan di langit dan kehidupan di bawah air tidak dipandang hanya sebatas objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Nilai nilai tersebut mengandung pesan bahwa keberlangsungan kehidupan manusia sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara alam dan aktivitas pembangunan. Banjir dan longsor yang terjadi hari ini di depan mata kita merupakan salah satu indikator bahwa perencanaan dan pengelolaan ruang belum sepenuhnya berjalan secara optimal. Fenomena tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pembangunan kawasan terbangun dengan upaya menjaga fungsi ekologis lingkungan. Dalam perspektif planologi, kondisi ini dapat dipahami sebagai menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang tidak selaras dengan karakteristik dan kemampuan lingkungan itu sendiri. Oleh karena itu dalam perencanaan wilayah dan kota tidak seharusnya hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, investasi, dan pembangunan fisik semata. Perencanaan juga harus memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan secara terpadu. Sebab tujuan pembangunan bukan hanya menciptakan ruang yang produktif secara ekonomi, tetapi juga mewujudkan ruang yang layak huni dan berkeadilan, tangguh terhadap bencana, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Pada hakikatnya, ruang adalah tempat tumbuh dan berkembangnya manusia menuju masa depan. Secara ontologis, Ruang bukan sekadar wadah aktivitas pembangunan, melainkan fondasi kehidupan yang menopang keberlangsungan sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, ketika ruang mengalami kerusakan, yang terancam bukan hanya kondisi lingkungan pada hari ini, tetapi juga masa depan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kehancuran ruang adalah kehancuran masa depan manusia, sebab dari ruanglah kehidupan tumbuh, berkembang, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.

 

Penulis : Ivan Akil,S.T

Informasi: bukan lagi bagian dari KLTV PT GADAI MAS NUSANTARA
info iklan - berminat langsung klik Chat WhatsApp

Pos terkait

Promosi
Deskripsi gambar untuk SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *