Oleh: Ipick Ghasa
***Senja Yang Hilang
Kisah lama membungkus batas hari
Elegan berdiri di penghujung kata
Tenang dalam dekapan sepi
Membidik sukma di balik senja yang menghilang
Diam diam ia berdandan rapih,
menitipkan malam
Bergeming, menanti irama kata
Menghembus angin,
mencengkeram sunyi,
merayakan yang hilang.
***Semu
Kau datang lagi
Menyamar
Berpakaian kelam malam
Aku menjamah
Ah, seperti meraba gulita.
Hati merangkul
Namun tak selalu tersentuh
Sungguh, hadirmu selalu tanpa jejak
Entahlah…
Barangkali akan terlarut,
Hilang.
Rosalia
**Sang Pemilik Lautan Cinta
Lihatlah
Tumpukan angan dan inginku masih mengangin
Tentu kau tak menginginkanya.
Namun mencintaimu adalah serumpun hidup.
Sering Engkau membelai saat aku lunglai
Menimang saat kumerengek.
Merayu saat kumengambek.
Menebar senyum sabar saat kilafku merangkul tingkah, saat amarah menghantam jiwa dan
Dusta berhambur liar.
Rosalia,
Di antara hilir mudik siang dan malam
Di pundakmu nan manja aku masih setia menyandarkan kepala, mimpi, harap dan rindu
Pada setiap pasang mata yang syahdu, Engkau tanamkan benih yang kerap kali kausebut kasih. Lalu cinta pun tumbuh dan beranak pinak memenuhi seisi jiwa.
Rosalia,
Dirimu adalah embun,
Mengusap mesra setiap pasangan kelopak mata saat membuta.
Dirimu adalah bait tersuci
tempat berbaringnya sajak dan doa.
Dari jiwa tandus yang mendamba hujan dengan selaksa mimpi yang masih bermain di balik selimut,
Aku bersimpuh: “Biarkan senyummu abadi merekah hingga angan dan inginku menjadi nyata bersamamu.”
Penulis adalah Alumnus SMAN 2 Elar-Wukir. Sekarang Tinggal di Wukir, Elsel- Manggarai Timur.