PANGKEP- KLTV INDONESIA klivetvindonesia.com.PANGKEP – Di balik seragam yang gagah dan langkah tegap seorang calon prajurit, seringkali tersimpan jejak perjuangan yang sarat akan air mata dan keringat. Inilah kisah Sultan Fajar Taslim, seorang alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pangkep yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki mental baja dan keyakinan teguh kepada Sang Pencipta.
Melawan Pahitnya Hidup demi Keluarga
Lahir, di Jakarta dibesarkan di Tanah Bugis dari keluarga sederhana dengan ayah seorang petambak di Pangkep, Fajar—begitu ia akrab disapa—tumbuh dengan kemandirian yang matang. Sejak duduk di bangku MTsN, ia sudah terbiasa menggembala sapi milik orang lain demi membantu ekonomi keluarga. Mental “pejuang” ini semakin terasah ketika ia lulus SMA.
Demi membantu biaya kuliah sang kakak, Fajar merantau ke Jakarta menjadi kurir aplikasi Shopee. Tak berhenti di sana, ia kembali ke Makassar dan bekerja sebagai pelayan sekaligus tukang cuci piring di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulsel. Pekerjaan kasar tak membuatnya malu; baginya, setiap rupiah yang halal adalah bentuk kasih sayang untuk orang tua.
Prestasi dan Mental Baja
Fajar bukanlah pemuda biasa.
Sejak remaja, ia adalah seorang Karateka DAN 1 yang tangguh. Saat di MTsN, ia pernah meraih Juara Komite Perorangan di tingkat nasional tanpa dukungan sekolah. Di MAN Pangkep, ia pun terpilih menjadi anggota Paskibraka tingkat kecamatan. Keberanian dan kedisiplinan yang ia miliki menjadi modal utama saat ia memutuskan untuk mendaftar sebagai SECABA PK TNI AD Gelombang III Tahun 2026.
Perjuangan “Senyap” Menuju Pakkatto
Ada kisah mengharukan di balik keberhasilan Fajar menembus seleksi TNI. Ia mendaftar tanpa sepengetahuan orang tuanya. Selama proses tes hingga masuk ke tahapan di Rindam XIV/Hasanuddin Pakkatto, Fajar menjaga komunikasi yang sangat minim.
Selama 14 hari, orang tua Fajar dihantui rasa cemas karena sang anak hilang kabar. Berbekal informasi dari media sosial dan keyakinan seorang ibu, orang tua Fajar mencari informasi hingga akhirnya mendapatkan kepastian bahwa putra mereka berada di Pakkatto.
Fajar berjuang dengan segala keterbatasannya. Ia hanya bermodalkan sepatu olahraga bekas pemberian seorang siswa SECABA Polri dan tas hitam yang sudah robek dan dijahit sendiri. Selama proses tes, ia kerap menumpang di tempat rekan rekannya tanpa sepengetahuan orang tua, agar ia tidak membebani mereka sedikitpun.
Mukjizat Doa dan Takdir Tuhan
Puncak haru terjadi saat pengumuman Pantukhir Pusat pada 28 Agustus 2026. Petugas Rindam XIV/Hasanuddin membuka pintu dan mempersilakan orang tua mencari putra mereka di “Lapangan Hitam”. Di sanalah, tangis haru pecah. Fajar, sang anak petani tambak yang pernah mencuci piring di SPN, kini berdiri tegak sebagai calon prajurit TNI AD.
“Cerita ini bukan rekayasa, melainkan fakta. Kami tidak mengeluarkan biaya besar. Modal kami hanyalah yakin kepada takdir Allah, menjaga fisik, kesehatan, serta kekuatan doa dan usaha yang tak pernah putus,” ungkap orang tua Fajar dengan suara bergetar.
Kisah Fajar adalah bukti nyata bahwa TNI membuka pintu selebar lebarnya bagi siapa saja yang memiliki tekad kuat, fisik yang tangguh, dan semangat pantang menyerah. Orang tua Fajar pun menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada jajaran Kodam XIV/Hasanuddin dan Rindam XIV/Hasanuddin yang telah memberikan kesempatan bagi putranya untuk mengabdi pada negara.
Kini, Sultan Fajar Taslim telah membuktikan bahwa dengan mental baja, kemandirian, dan ridho Allah SWT, anak seorang petambak bisa melangkah melampaui takdirnya, menuju masa depan yang lebih bermartabat demi bangsa dan negara.
Iklan Terbaru
iklan 1
iklan 2

DPP LIMAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI BAKTI ADHIAKSA






