GORONTALO — Di tengah keterbatasan dukungan pembiayaan, kontingen Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Provinsi Gorontalo tetap menunjukkan daya saing pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 yang berlangsung di Banten, 23–29 Oktober 2026. Perjuangan yang dilakukan dengan pembiayaan mandiri tersebut membuahkan capaian membanggakan, yakni bertambahnya dua pecatur bergelar Master Nasional (MN).
Prestasi ini menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran tidak serta-merta memadamkan semangat atlet untuk berkompetisi dan membawa nama daerah ke panggung nasional. Namun, capaian tersebut sekaligus menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap pembinaan olahraga prestasi agar potensi atlet Gorontalo dapat berkembang secara optimal.
Ketua Percasi Provinsi Gorontalo, Beni Nento, menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet dan rombongan yang telah berjuang dalam kejuaraan nasional tersebut. Ia menilai keikutsertaan kontingen Gorontalo bukan sekadar upaya mengejar prestasi, melainkan juga bagian dari proses pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang olahraga catur.
Menurut Beni, Kejurnas Catur ke-51 diikuti 941 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Pertandingan dipusatkan di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH), Serang, Banten.
“Alhamdulillah, Percasi Gorontalo mampu menunjukkan prestasi di Kejurnas Catur ke-51 Banten. Ini merupakan hasil dari kerja keras, semangat, dan perjuangan para atlet yang berangkat dengan pembiayaan mandiri. Kami sangat mengapresiasi seluruh atlet yang telah berjuang membawa nama Gorontalo,” ujar Beni Nento.
Ia menjelaskan, kontingen Percasi Gorontalo memberangkatkan 17 atlet yang terdiri atas empat atlet senior, enam atlet junior, dan satu atlet veteran. Selain itu, terdapat lima peserta yang mengikuti program peningkatan kompetensi wasit melalui kegiatan upgrading, serta satu peserta dalam program peningkatan kualitas pelatih.
Beni menegaskan, keikutsertaan dalam Kejurnas tidak semata-mata diukur dari jumlah medali yang diperoleh. Kompetisi tingkat nasional tersebut menjadi kesempatan bagi para atlet untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman bertanding, serta meningkatkan kualitas wasit dan pelatih sebagai bagian penting dari ekosistem pembinaan catur.
“Bagi kami, Kejurnas ini bukan hanya tentang medali. Ini juga menjadi kesempatan bagi atlet untuk menambah pengalaman, mengukur kemampuan, serta meningkatkan kualitas wasit dan pelatih. Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berkembang,” tambahnya.
Dua Pecatur Tambah Gelar Master Nasional
Salah satu capaian penting Percasi Gorontalo dalam Kejurnas kali ini adalah bertambahnya dua pecatur bergelar Master Nasional dari kategori Open atau Senior.
Berdasarkan keterangan Beni Nento, tambahan tersebut membuat jumlah pecatur Gorontalo yang telah menyandang gelar Master Nasional mencapai 19 orang.
Pencapaian ini menjadi modal penting bagi pengembangan olahraga catur di Gorontalo. Bertambahnya pecatur bergelar MN diharapkan dapat memperkuat kualitas persaingan, mendorong regenerasi atlet, serta menjadi motivasi bagi pecatur muda untuk meningkatkan kemampuan dan menargetkan prestasi yang lebih tinggi.
“Tambahan dua gelar Master Nasional ini merupakan kebanggaan bagi Percasi Gorontalo. Saat ini, kita sudah memiliki 19 pecatur bergelar MN. Ini menjadi modal besar untuk terus mendorong pembinaan atlet dan melahirkan pecatur-pecatur berprestasi di masa mendatang,” ungkapnya.
Rekam Jejak Prestasi Pecatur Gorontalo
Berdasarkan data yang disampaikan Percasi Gorontalo, sejumlah pecatur yang tercatat meraih gelar atau gelar kehormatan dalam kejuaraan sebelumnya antara lain:
Kejurnas Mamuju:
1. MN Yosar Ruiba
2. MN Alif Bilondatu
3. MN Bambang Katili
4. MP Ridwan Lasimpala
Kejurnas Banten:
1. MN Ridwan Manti
2. MN Aji Pombo
Catatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembinaan catur Gorontalo dalam melahirkan atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional. Konsistensi pembinaan, peningkatan kualitas pelatih, serta kesempatan bertanding yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan prestasi tersebut.
Prestasi Daerah Butuh Dukungan Berkelanjutan
Keberhasilan kontingen Gorontalo di Banten patut diapresiasi. Namun, perjuangan dengan pembiayaan mandiri juga menjadi perhatian tersendiri dalam pengembangan olahraga prestasi di daerah.
Prestasi atlet tidak semestinya hanya bergantung pada semangat dan pengorbanan pribadi. Pembinaan yang terencana membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemangku kepentingan olahraga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, sesuai dengan kapasitas serta mekanisme yang berlaku.
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pembiayaan kompetisi, penyediaan fasilitas latihan, peningkatan kualitas pelatih, penyelenggaraan kejuaraan berjenjang, hingga program regenerasi atlet sejak usia dini.
Tanpa pembinaan yang konsisten dan dukungan yang memadai, potensi atlet berisiko tidak berkembang secara maksimal. Karena itu, capaian di Kejurnas Catur ke-51 seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan sesaat, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat sistem pembinaan catur di Gorontalo.
Tambahan dua gelar Master Nasional di Banten menunjukkan bahwa pecatur Gorontalo memiliki potensi untuk terus berkembang dan bersaing di tingkat nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan prestasi tersebut diikuti langkah pembinaan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Percasi Gorontalo telah menunjukkan bahwa semangat juang mampu menghasilkan prestasi. Kini, dukungan yang konsisten menjadi bagian penting agar prestasi tersebut dapat terus tumbuh dan melahirkan lebih banyak pecatur berkelas nasional.
Deber27
Iklan Terbaru
iklan 1
iklan 2

DPP LIMAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI BAKTI ADHIAKSA






