KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com–
1. MALLILA PARARANG
Secara harfiah, MALLILA PARARANG berarti “berlidah biawak.”
Dalam imajinasi masyarakat Bugis, biawak adalah hewan yang lidahnya bergerak ke sana kemari. Karena itu, ungkapan ini ditujukan kepada orang yang bermuka dua, suka memutar kata, dan gemar mengadu domba.
Orang MALLILA PARARANG tampak manis di depan, tetapi menebar racun di belakang. Ia mendekati seseorang dengan wajah persahabatan, namun diam-diam membawa cerita kepada pihak lain demi menciptakan pertikaian.
Orang MALLILA PARARANG merusak tatanan kebersamaan karena kepercayaan adalah fondasi utama hubungan antarmanusia.
Tidak ada luka yang lebih sulit disembuhkan selain luka akibat pengkhianatan dari sahabat sendiri. Musuh yang datang dari depan masih dapat dihadapi, tetapi sahabat palsu menusuk dari belakang ketika kita sedang membuka hati.
Karena itu, orang Bugis sangat berhati-hati terhadap manusia yang terlalu pandai memainkan kata-kata tetapi miskin ketulusan.
Keburukan MALLILA PARARANG bukan hanya pada dustanya, melainkan pada kemampuannya menghancurkan persaudaraan. Ia seperti api kecil di tengah rumah kayu: tampak sepele, tetapi dapat membakar seluruh hubungan sosial.
2. MAKKANRE BEBBUK
Secara harfiah, makkanre bebbuk berarti “makan seperti rayap.”
Rayap bekerja diam-diam. Dari luar kayu tampak utuh dan kokoh, tetapi bagian dalamnya telah keropos dimakan perlahan.
Kiasan ini ditujukan kepada orang yang tampak baik di permukaan, tetapi menyimpan potensi membahayakan atau mencelakakan. Ia tersenyum, membantu, bahkan tampak setia, namun diam-diam menunggu kesempatan untuk mengambil keuntungan atau menjatuhkan orang lain.
Falsafah ini mengajarkan bahwa tidak semua kerusakan datang dengan suara gaduh. Ada manusia yang menghancurkan secara perlahan, tanpa disadari. Mereka merusak kepercayaan sedikit demi sedikit, menggerogoti semangat, memanfaatkan kelemahan orang lain, hingga akhirnya meninggalkan kehancuran ketika semuanya sudah terlambat.
Dalam kehidupan modern, tipe MAKKANRE BEBBUK sering muncul dalam bentuk manusia oportunis: mendekat saat ada manfaat, menjauh ketika kesulitan datang. Ia memakai topeng kebaikan untuk menutupi kepentingannya sendiri.
Orang Bugis memandang bahwa sahabat sejati harus seperti pohon yang memberi teduh, bukan seperti rayap yang menggerogoti dari dalam. Sebab persahabatan tanpa ketulusan hanya akan melahirkan kehancuran yang perlahan tetapi pasti.
3. RIKABETTI TANRUK TEDONG
Secara harfiah, RIKABETTI TANRUK TEDONG berarti “mencubit tanduk kerbau.”
Ungkapan ini menggambarkan orang yang sangat pelit luar biasa. Bahkan sesuatu yang keras dan tak bernilai seperti tanduk kerbau pun masih ingin “dicubit” atau diambil manfaatnya.
Kiasan ini ditujukan kepada manusia yang hanya ingin menerima tetapi tidak pernah mau memberi. Dalam pergaulan, ia selalu ingin ditraktir makan, dipinjami bantuan, atau menikmati kemurahan orang lain, namun tidak pernah memiliki niat membalas dengan ketulusan yang sama.
Dalam kebudayaan Bugis, kemurahan hati adalah ukuran keluhuran jiwa. Seseorang tidak dinilai dari banyaknya harta, tetapi dari kesediaannya berbagi. Orang yang terlalu pelit dianggap miskin batin, sebab ia hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Sikap RIKABETTI TANRUK TEDONG juga menunjukkan cara pandang hidup yang sempit. Ia menghitung segala sesuatu dengan untung-rugi pribadi, sehingga hubungan persahabatan berubah menjadi transaksi. Padahal sahabat sejati lahir dari kerelaan saling membantu, bukan dari kalkulasi keuntungan.
Manusia yang terlalu kikir sering kehilangan makna persaudaraan. Ia mungkin berhasil menyimpan hartanya, tetapi perlahan kehilangan kehangatan manusia di sekelilingnya.
iklan 1
iklan 2
iklan 3






