*Kami Sudah Bertahan Lewati Krisis, Peternak Rakyat Menolak Budidaya Asing dan PPN*
Jakarta –
Klivetvindonesia.com –
Hari ini Jumat (08/05/26) — Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, menegaskan penolakan peternak rakyat terhadap wacana masuknya investor asing pada sektor budidaya petelur nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk Peran Serta Pemerintah dalam Mensejahterakan Petani Peternak melalui Hilirisasi Perunggasan Nasional di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta.
Dalam wawancaranya, Yudianto mempertanyakan munculnya isu swasembada telur yang dinilai seolah mengabaikan perjuangan panjang peternak nasional selama bertahun-tahun.
“Pertanyaan ini kan bilang swasembada telur, tapi kenapa harus didatangkan profesor? Justru itu yang menyebabkan keresahan dan kemarahan peternak. Kami sudah bertahun-tahun mengupayakan swasembada telur ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peternak rakyat telah mampu bertahan menghadapi berbagai krisis besar, mulai dari krisis moneter, wabah avian influenza, pandemi Covid-19, hingga krisis jagung tanpa membebani pemerintah secara berlebihan.
“Bagaimanapun kami peternak tidak pernah mengganggu pemerintah. Kami terus berjuang sendiri. Yang kami perlukan sebenarnya hanya harga jagung yang wajar,” katanya.
Yudianto juga menyoroti kondisi industri petelur yang saat ini mengalami tekanan akibat oversupply telur. Menurutnya, di tengah kondisi harga telur yang turun, justru muncul wacana menggandeng investor asing untuk masuk ke sektor budidaya ayam petelur nasional.
“Kami tidak keberatan kalau investasi asing masuk untuk teknologi atau sektor pendukung industri. Tapi kalau masuk ke budidaya, peternak pasti marah. Peternak rakyat sungguh menolak semuanya ini,” tegasnya.
Ia menyebut penolakan tersebut merupakan aspirasi bersama peternak rakyat di berbagai daerah yang sebelumnya juga telah dibahas dalam pertemuan peternak di Solo pada 2 Mei 2026.
Lebih lanjut, Yudianto meminta pemerintah melibatkan asosiasi peternak dalam setiap pengambilan keputusan terkait perizinan industri peternakan. Menurutnya, peternak di lapangan lebih memahami kondisi supply dan demand di masing-masing daerah.
“Kami ingin asosiasi kami diakui, disahkan, dan dilibatkan dalam setiap keputusan, terutama soal perizinan industri peternakan.
Kami yang lebih tahu daerah mana yang sudah oversupply,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi pasca-Lebaran yang menyebabkan penumpukan telur di kandang peternak akibat lemahnya penyerapan pasar dan liburnya distribusi perdagangan.
Dalam kesempatan tersebut, Yudianto juga meminta pemerintah memperkuat penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia berharap telur dapat menjadi menu utama yang wajib terserap secara maksimal demi mendukung program penanganan stunting nasional.
“Kami mohon kepada Kepala Badan Gizi maupun langsung kepada Presiden Prabowo agar MBG benar-benar menyerap telur peternak. Jangan sampai telur dibuang menjadi sampah karena alasan anak bosan makan telur,” katanya.
Menurutnya, telur merupakan sumber protein murah dan efektif dalam mendukung perbaikan gizi anak-anak Indonesia.
Selain itu, Yudianto optimistis keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KopDes Merah Putih) nantinya dapat membantu penyerapan hasil peternakan nasional, termasuk telur dan jagung petani.
“Kami berharap seluruh koperasi peternak di Indonesia dapat dilibatkan untuk memenuhi kebutuhan KopDes, MBG, maupun program pemerintah lainnya,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Yudianto mengungkapkan bahwa pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Pertanian terkait berbagai persoalan yang dihadapi peternak rakyat dan kini menunggu tindak lanjut dari pemerintah.
“Saya Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional. Kami berharap pemerintah benar-benar mendengar suara peternak rakyat,” pungkasnya.
Jurnalis Christy.
iklan 1
iklan 2
iklan 3






