SULSEL_ Ⓚ -LTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com TAKALAR – Proyek Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier (P3A) di Desa Cakura, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, menuai kritik dari masyarakat setempat pada Minggu (6/9/2026). Pengerjaan proyek yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut dinilai asal-asalan, mulai dari penempatan saluran hingga kualitas fisik bangunan.

Berdasarkan pantauan media di lokasi, sejumlah kejanggalan memicu protes warga dan petani setempat. Dugaan pengerjaan yang kurang maksimal terlihat dari pemasangan batu yang bercampur lumpur, sehingga meragukan kualitas serta ketahanan fisik bangunan.
Indikasi kejanggalan dalam progres fisik ini mencakup dugaan ketidaksesuaian dengan petunjuk teknis (juknis), seperti penggunaan semen secara serabutan, ketinggian pasangan batu yang tidak mencapai target 70 cm, hingga pengerjaan pintu saluran irigasi yang dinilai tidak optimal.

Selain masalah teknis, transparansi proyek turut dipertanyakan lantaran papan informasi anggaran tidak terpasang di lokasi pengerjaan.
”Anggaran dari APBN ini seharusnya dimaksimalkan untuk kepentingan petani. Jangan sampai dana turun ke daerah, tetapi pengerjaannya asal-asalan dan tidak dapat difungsikan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar salah seorang petani di lokasi proyek.
Kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi ini berada di bawah naungan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian. Proyek bernilai Rp100.000.000,- tersebut dilaksanakan oleh kelembagaan P3A setempat. Kualitas fisik bangunan yang disinyalir tidak memenuhi standar mutu dikhawatirkan membuat struktur irigasi cepat rusak dan gagal memberikan dampak optimal bagi pasokan air ke lahan pertanian warga.
Sikap arogan justru ditunjukkan oleh Ketua Kelompok P3A, Dg Tata, saat dikonfirmasi media mengenai ketiadaan papan informasi proyek. Melalui pesan pribadi, ia memberikan tanggapan bernada gertakan.
”Papan proyek apa? Teamako boyai masalah,” tulis Dg Tata dalam bahasa daerah Makassar, yang berarti “Jangan kamu cari-cari masalah.”
Ia juga menambahkan, “Teaiji doe jai antu anjoeng, antu lagi baji punna ganna danana,” yang bermakna “Bukan uang banyak di situ, masih untung kalau dananya cukup.”
Pernyataan dari ketua kelompok tersebut semakin menimbulkan kecurigaan publik terhadap proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Sementara itu, Dg Liwang yang disebut-sebut sebagai pihak kedua memberikan tanggapan singkat saat dikonfirmasi via pesan WhatsApp.
”Saya akan mengontrol kembali pelaksanaan proyek yang diduga asal jadi tersebut,” ujar Dg Liwang.
Atas kondisi ini, masyarakat bersama lembaga kontrol sosial berharap dinas terkait dan instansi pengawas dapat segera turun langsung ke lapangan untuk meninjau mutu serta efektivitas pengerjaan. Evaluasi dan pengawasan ketat sangat diperlukan agar anggaran negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani setempat.
CATATAN REDAKSI:
Redaksi Tetap Membuka Ruang Hak Jawab/Klarifikasi Atau Tanggapan Kepada Pihak Terkait ataupun yang di Sebutkan namanya Sesuai prinsip keberimbangan pemberitaan Sesuai Ketentuan Undang Undang Pers No.40 Tahun 1999.
Iklan Terbaru
iklan 1
iklan 2

DPP LIMAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI BAKTI ADHIAKSA






