SULSEL – KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– MAKASSAR — Pemandangan terbiasa terjadi di depan SMA Negeri 10 Makassar, Jalan Tamangapa Raya 5, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Jumat pagi.
Sekitar pukul 07.15 WITA, pagar sekolah disebut ditutup oleh sekuriti. Puluhan siswa yang datang terlambat beberapa menit akhirnya tidak dapat masuk ke lingkungan sekolah dan terpaksa berada di luar pagar.
Sebagian siswa kemudian terlihat menunggu di sejumlah warung dan kedai di sekitar depan sekolah. Ada yang memilih pulang, ada yang menunggu dijemput orang tua, bahkan ada yang menggunakan transportasi seperti Ojol.

Situasi tersebut sontak memunculkan keresahan, khususnya di kalangan orang tua. Sebab, tidak semua siswa yang terlambat dapat langsung kembali ke rumah.
Ada siswa yang mengaku takut pulang karena khawatir dimarahi orang tua. Sementara siswa lainnya menyebut jarak rumahnya cukup jauh, sekitar tiga kilometer dari sekolah.
Terlambat Beberapa Menit, Ternyata Alasannya Beragam

Keterlambatan para siswa disebut bukan semata-mata karena kesengajaan.
Sejumlah siswa mengaku mengalami berbagai kendala sebelum tiba di sekolah. Ada yang terjebak kemacetan akibat aktivitas kendaraan pengangkut sampah di sejumlah titik, kendaraan mengalami masalah antrean di SPBU, hingga kemacetan di sekitar lokasi pembuangan sampah.
Ada pula siswa yang mengaku terlambat karena kesulitan mendapatkan air untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Sebagian lainnya mengalami Keterlambatan di jemput Ojol, harus Harus menunggu Orang Tua Barengan ketempat Aktivitanya, serta menghadapi kendala perjalanan karena jarak rumah yang cukup jauh.
Fakta ini tentu menjadi bahan pertanyaan: apakah setiap keterlambatan harus berujung pada siswa kehilangan kesempatan masuk sekolah, meski hanya terlambat beberapa menit?

Sejumlah orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah mengaku kecewa dengan penerapan aturan tersebut.
Salah seorang orang tua bahkan menyampaikan bahwa anaknya baru terlambat sekitar satu menit ketika pagar ditutup, namun tetap tidak diberikan kesempatan masuk.
Menurut sejumlah orang tua, kedisiplinan memang penting dan harus diterapkan di lingkungan sekolah. Namun, mereka berharap terdapat mekanisme pembinaan bagi siswa yang terlambat dalam batas waktu tertentu.
Salah satu opsi yang dinilai lebih mendidik adalah memberikan sanksi edukatif, misalnya siswa yang terlambat diberikan tugas membersihkan lingkungan sekolah, memungut dedaunan, atau bentuk pembinaan lain yang sesuai dengan tata tertib sekolah.
“Tegas dan disiplin itu bagus. Tetapi kalau terlambat lima menit, mungkin bisa diberikan pembinaan terlebih dahulu,” demikian kekhawatiran yang disampaikan orang tua.
Yang Jadi Pertanyaan: Bagaimana Nasib Siswa Setelah Pagar Ditutup?
Persoalan ini tidak hanya menyangkut ketepatan waktu.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana memastikan keamanan dan keselamatan siswa ketika mereka tidak diperbolehkan masuk ke lingkungan sekolah pada jam belajar?
Orang tua pada umumnya mengetahui bahwa anak mereka telah berangkat menuju sekolah. Ketika siswa justru berada di luar pagar dan sebagian menunggu di warung atau kedai sekitar sekolah, kekhawatiran pun muncul.
Tidak semua siswa memiliki kendaraan untuk pulang. Tidak semua siswa bisa langsung dijemput. Bahkan ada yang memilih tetap berada di sekitar sekolah karena takut pulang ke rumah.
Kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama.
Sebab, penerapan disiplin di dunia pendidikan semestinya tidak hanya berbicara mengenai aturan dan sanksi, tetapi juga menyangkut pembinaan, perlindungan, serta keselamatan peserta didik.
Disiplin Penting, Tetapi Jangan Sampai Menimbulkan Persoalan Baru
Sekolah tentu memiliki tata tertib yang harus dihormati oleh seluruh siswa.
Namun, dalam penerapannya, publik juga berharap adanya kebijakan yang tetap mempertimbangkan kondisi faktual di lapangan.
Keterlambatan lima menit akibat kemacetan, kendaraan bermasalah, kondisi kesehatan, persoalan air di rumah, maupun kewajiban membantu orang tua tentu memiliki konteks yang berbeda dengan siswa yang sengaja mengabaikan jam masuk sekolah.
Karena itu, mekanisme pembinaan dan sanksi edukatif dapat menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan, tentunya tetap mengacu pada aturan dan kebijakan resmi sekolah.
Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat siswa takut terlambat, tetapi membentuk karakter disiplin, bertanggung jawab, sekaligus memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Upaya Konfirmasi Media Belum Mendapatkan Penjelasan
Sementara itu, upaya media untuk memperoleh konfirmasi terkait kebijakan penutupan pagar dan mekanisme penanganan siswa yang terlambat belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak SMA Negeri 10 Makassar.
Saat media hendak melakukan konfirmasi, sekuriti disebut tidak memberikan akses untuk memperoleh keterangan.
Sementara itu, kepala sekolah di hubungi melalui by phone WhatsApp sebagai Upaya untuk mendapatkan ruang konfirmasi terkait kondisi puluhan siswa yang berada di luar pagar juga belum memperoleh tanggapan.
Dengan demikian, belum diperoleh penjelasan resmi mengenai apakah penutupan pagar pada pukul 07.15 WITA tersebut merupakan kebijakan resmi sekolah, berapa batas toleransi keterlambatan yang ditetapkan, serta bagaimana prosedur sekolah dalam memastikan siswa yang terlambat tetap aman.
Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak SMA Negeri 10 Makassar agar persoalan ini dapat dilihat secara berimbang.
Publik Menunggu Jawaban Sekolah
Peristiwa di Jalan Tamangapa Raya 5 tersebut semestinya tidak berhenti menjadi perdebatan antara siswa, orang tua, sekuriti, dan pihak sekolah.
Justru, kejadian ini dapat menjadi momentum evaluasi bersama mengenai bagaimana konsep kedisiplinan diterapkan di lingkungan pendidikan.
Sekolah membutuhkan aturan. Siswa membutuhkan disiplin. Tetapi siswa juga membutuhkan perlindungan dan pembinaan.
Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa ketat pagar sekolah ditutup tepat waktu, tetapi juga dari bagaimana sekolah membentuk peserta didik menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan tetap mendapatkan perlindungan.
Kini pertanyaannya tinggal satu:
Apakah siswa yang terlambat beberapa menit harus langsung kehilangan kesempatan mengikuti pelajaran, atau masih ada ruang pembinaan yang lebih edukatif dan humanis?
Jawaban dari pihak SMA Negeri 10 Makassar tentu penting untuk diketahui publik.
Iklan Terbaru
iklan 1
iklan 2

DPP LIMAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI BAKTI ADHIAKSA






