Manggarai Barat, KLTV INDONESIA klivetvindonesia.com – Di tengah jalur strategis yang menghubungkan dua destinasi wisata kelas dunia, Labuan Bajo dan Wae Rebo, berdiri Desa Poco Rutang, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai contoh nyata bagaimana tradisi, pelestarian alam, dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan.06/06/2026

Desa yang berjarak sekitar 35 kilometer dari ibu kota kabupaten tersebut kini menyandang status Desa Maju. Keberhasilan ini tidak terlepas dari komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi wisata berbasis kearifan lokal.
Salah satu ikon utama desa ini adalah Taman Wisata Lodok Poco Rutang, sebuah sistem pembagian lahan komunal atau lingko yang membentuk pola menyerupai jaring laba-laba raksasa. Selain menjadi daya tarik wisata yang unik, Lodok juga mencerminkan filosofi kebersamaan, keadilan, dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Manggarai.
Keunikan budaya tersebut kini menjadi magnet wisata yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasinya yang berada tepat di pinggir jalur utama menuju Labuan Bajo dan Wae Rebo semakin memperkuat posisi Poco Rutang sebagai destinasi singgah yang bernilai edukatif dan budaya.

Pengembangan Desa Poco Rutang turut mendapat dukungan melalui Program Pembinaan Pengembangan Desa Wisata dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Dukungan tersebut diwujudkan dalam pembangunan berbagai fasilitas penunjang wisata, seperti kios dan kedai-kedai kayu yang diperuntukkan bagi masyarakat lokal. Kehadiran infrastruktur ini tidak hanya mempercantik kawasan wisata, tetapi juga membuka ruang usaha baru yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan warga.
Pembangunan yang dilakukan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
Keberhasilan Poco Rutang tidak lepas dari peran aktif BUM Desa Poco Rutang yang mengelola seluruh objek wisata secara mandiri. Model pengelolaan berbasis desa ini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu mengelola potensi daerahnya sendiri secara profesional dan produktif.
Aktivitas pariwisata yang berkembang telah membuka lapangan kerja baru, meningkatkan peluang usaha masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Melalui pendekatan tersebut, potensi lokal tidak hanya menjadi aset budaya, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan yang memperkuat kemandirian desa.
Poco Rutang menjadi contoh bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan identitas budaya. Justru dengan menjaga tradisi, melestarikan lingkungan, dan memperkuat kelembagaan desa, masyarakat mampu menciptakan kemajuan yang inklusif dan berkelanjutan.
Desa ini mengajarkan bahwa masa depan dapat dibangun dari akar budaya yang kuat, semangat gotong royong, dan pengelolaan sumber daya yang berpihak pada masyarakat.
Dari Poco Rutang, tersampaikan sebuah pesan penting bagi desa-desa di Indonesia: ketika alam dijaga, tradisi dirawat, dan masyarakat diberdayakan, maka kemajuan bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama.
(Redaksi KLTV Indonesia)
iklan 1
iklan 2






