K-LTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Tidak bisa kita pungkiri bahwa kekuasaan adalah raja. Maka dengan kekuasaan ” penguasa” dapat berbuat apa saja yang mereka suka. Terkecuali nyawa manusia yang tak mampu mereka buat. Fenomena ini menghiasi dinamika kepentingan dalam mempertahankan kekuasaan lewat kaki tangan mereka untuk berkuasa.
Sehubungan dengan kekuasaan tersebut kadangkala kita jumpa “penguasa ” salah menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya .Keadaan yang demikian yang membuat mereka lakukan karena ada kesempatan dan peluang. Dan oleh karena itu, mereka sungguh memanfaatkan peluang tersebut . Pasalnya mereka tahu kalau bukan sekarang kapan lagi mereka bisa mengangkat derajat anaknya ataupun keluarganya ditempat strategis”.
Fenomena yang demikian , mereka tak mau pusing peduli dengan kritikan dan cemoohan dari orang yang sekelilingnya,rakyatnya karena mereka menilai itu seperti kutu busuk yang lagi mengganggu kenyamanan mereka di kursi kekuasaan yang sementara menikmati kekuasaan yang lebih nikmat dari seks.
Maka oleh karena itu segala cara mereka lakukan termasuk karisma kekuasaan yang mereka miliki dimana dengan jari telunjuknya mereka dapat memerintahkan orang – orang strukturalnya untuk melaksanakan apa yang mereka suka . Apa itu halal atau haram . Meski perintahnya berlawan dengan suara hati. Namun, bawahannya siap melaksanakan demi jabatan , pangkat dan perut.
Melihat skenario yang dimainkan oleh ” penguasa dan kelompoknya” sepertinya mereka ingin untuk mempertahankan kekuasaan lewat kaki tangannya . Maka mulai dari keluarga dan kerabatnya ditempatkan pada posisi strategis .
Kondisi yang demikian untuk mengamankan jika ada pemilihan mereka akan membantu keluarga dan kerabatnya yang maju pada Capres Cawapres . Dan jika menang mereka akan dilindung oleh Capres yang mereka jagokan dan juga ikut menikmati kekuasaan.
Melihat cara – cara yang demikian , rakyat sepertinya jijik melihat tingkah mereka yang sepertinya rakus dengan kekuasaan . Dan terkesan sepertinya tidak memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk berkuasa maka habis ayah ganti anaknya untuk berkuasa karena mereka tahu kekuasaan itu lebih nikmat daris seks”.
Maka oleh karena itu segala lini mereka sudah siap strategi dan taktik untuk memenangkan Capres Cawapres dari kelompoknya . Meski mereka tahu miskin prestasi dan pengalaman tapi mereka coba mengkarbitkan untuk menjadi pemimpin karena ada sutradaranya yang mengaturnya.
Keadaan yang demikian membuat warga pemilih jauh dari Capres Cawapres yang mereka jagokan karena omongannya seperti orang mabuk dan kalo mau menjawab lama baru dijawab seperti anak – anak yang baru belajar omong.
Melihat hal yang demikian rakyat yang cerdas akan menjauhinya . Dan tak mau memilih pemimpin dan wakil pemimpin dilihat dari ayahnya tapi dari kematangannya dalam memimpin. Jika salah memimpin kita akan mengalami ketertinggalan maka pilih pemimpin yang cerdas dan lincah dan memiliki rekam jejak yang baik sehingga kekuasaan yang lebih nikmat dari seks tidak disalahgunakan untuk keluarga dan kerabat. Lebih dari itu rakyat harus menolak calon pemimpin yang tangannya sudah digaris untuk jadi pemimpin.(FRANS KATO)





