Budidaya Pohon Balsa: Peluang Usaha Baru yang Menjanjikan Namun Minim Dukungan

Sintang, Kalbar – Di Desa Pengkadan, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, terdapat seorang petani bernama Mistar yang sedang mengembangkan budidaya pohon balsa.

Mistar, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Pengkadan Baru, memulai budidaya ini sejak 1,8 bulan lalu.

“Saya memulai budidaya pohon balsa karena melihat potensinya yang besar,” kata Mistar kepada awak media pada Jumat (29/9/2023). “Pohon balsa dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki banyak manfaat.”

Selain itu, Mistar juga ingin memberikan contoh kepada warga desa untuk melakukan budidaya tanaman yang dapat memberikan alternatif penghasilan.

Saat ini, mayoritas warga desa masih mengandalkan hasil pertanian, seperti karet dan juga tanaman sayuran.

Namun, harga komoditas tersebut cenderung rendah, sehingga penghasilan warga desa juga rendah.

Budidaya pohon balsa memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

Potensi pasar yang besar

Kayu balsa memiliki banyak manfaat, seperti ringan, kuat, dan tahan air. Hal ini membuat kayu balsa banyak digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pembuatan perahu, kerajinan, dan furnitur.

Waktu panen yang relatif singkat

Pohon balsa dapat dipanen setelah berumur 4 tahun. Hal ini membuat budidaya pohon balsa menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi para petani.

Pemeliharaan yang relatif mudah

Pohon balsa tidak memerlukan perawatan yang intensif. Pohon ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan iklim.

Mistar berharap budidaya pohon balsa dapat menjadi alternatif penghasilan bagi para petani di Desa Pengkadan Baru.

Lantas Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kepada para petani, seperti bantuan pemasaran dan pelatihan.

“Harapan kami semoga Pemerintah Daerah kabupaten Sintang maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui instansi terkait melihat ini,” ungkap Mistar.

Sehingga lanjutnya pihak terkait tersentuh untuk memberikan dukungan kepada para petani.

“Selain ketahanan pangan tentu komoditas alternatif bisa dikembangkan namun harus memiliki dukungan yang cukup baik pendamping penyuluhan hingga pemasaran,” pintanya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *