PT.Gozco Plantations Tbk Menggelar Pubex th 2026 di Jakarta.
Jakarta,
Klivtvindonesia.com
PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp107,6 miliar pada tahun buku 2025 atau meningkat 72,41 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp62,41 miliar. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan, membaiknya harga jual komoditas sawit, serta efisiensi beban keuangan yang dilakukan perseroan sepanjang tahun lalu.
Kinerja tersebut dipaparkan dalam Public Expose Tahunan Perseroan yang digelar di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Dalam paparan tersebut, Direktur Keuangan, Pajak & Akuntansi GZCO, Marvin Herbert Wibisono, menyampaikan kinerja keuangan, pencapaian operasional, serta rencana pengembangan usaha perseroan untuk tahun 2026.
Dari sisi keuangan, GZCO mencatat penjualan bersih sebesar Rp872,99 miliar pada 2025, meningkat 8,49 persen dibandingkan Rp804,65 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, beban pokok penjualan hanya naik 0,88 persen menjadi Rp646,71 miliar, sehingga laba kotor meningkat 38,34 persen menjadi Rp226,28 miliar.
Perseroan juga berhasil menekan beban keuangan sebesar 42,91 persen menjadi Rp19,73 miliar dari Rp34,55 miliar pada 2024. Kondisi tersebut mendorong laba sebelum pajak tumbuh 70,04 persen menjadi Rp137,68 miliar.
Dari sisi operasional, GZCO membukukan produksi tandan buah segar (TBS) inti sebesar 232.691 ton sepanjang 2025 atau mencapai 100 persen dari target yang ditetapkan perusahaan. Produksi crude palm oil (CPO) tercatat sebesar 42.924 ton, sedangkan produksi palm kernel (PK) mencapai 9.486 ton atau melampaui target tahunan dengan tingkat pencapaian 103 persen.
Peningkatan produktivitas tersebut turut mendukung pertumbuhan penjualan. Sepanjang 2025, GZCO membukukan penjualan sekitar 39 ribu ton CPO, 9 ribu ton PK, dan 58 ribu ton TBS. Secara nilai, total penjualan produk utama perusahaan mencapai sekitar Rp873 miliar, meningkat dibandingkan Rp805 miliar pada tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut juga didukung oleh kenaikan harga jual komoditas sawit. Harga rata-rata CPO meningkat menjadi Rp14.427 per kilogram dibandingkan Rp13.131 per kilogram pada 2024. Harga rata-rata PK naik menjadi Rp12.294 per kilogram dari Rp8.715 per kilogram, sementara harga jual rata-rata TBS mencapai Rp3.277 per kilogram.
Saat ini GZCO mengelola perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah melalui sejumlah anak usaha strategis. Hingga akhir 2025, total area tertanam mencapai 15.949 hektare, meningkat 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total areal tersebut, sekitar 13.461 hektare atau 84 persen merupakan tanaman menghasilkan, sedangkan 2.488 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan.
Selain mencatat pertumbuhan kinerja, perusahaan juga terus memperkuat implementasi praktik perkebunan berkelanjutan. Sejumlah anak usaha GZCO telah memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap tata kelola industri sawit yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Di sisi neraca, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp2,19 triliun per akhir 2025. Sementara itu, total liabilitas turun 12 persen menjadi Rp960,34 miliar dari Rp1,09 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan liabilitas tersebut mencerminkan perbaikan struktur keuangan perusahaan di tengah upaya peningkatan produktivitas dan pengembangan usaha.
Memasuki 2026, GZCO menargetkan produksi TBS inti sebesar 230.800 ton, produksi CPO sebesar 41.800 ton, dan produksi PK sebanyak 8.550 ton. Hingga kuartal I-2026, realisasi produksi masih berjalan sesuai rencana kerja yang telah ditetapkan perusahaan.
Untuk mendukung target tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp161 miliar sepanjang 2026. Marvin Herbert Wibisono menjelaskan bahwa sekitar Rp93 miliar akan digunakan untuk program penanaman baru, replanting, dan perawatan tanaman belum menghasilkan (TBM), sedangkan Rp68 miliar lainnya dialokasikan untuk investasi aset tetap yang mendukung kegiatan operasional perusahaan.
Manajemen menilai prospek industri kelapa sawit nasional masih cukup positif seiring meningkatnya kebutuhan minyak nabati global dan berlanjutnya program biodiesel nasional. Dengan dukungan produktivitas kebun yang terus ditingkatkan, efisiensi operasional, serta investasi berkelanjutan melalui program replanting dan pengembangan kebun, GZCO optimistis dapat menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Pada 2026, perseroan menargetkan produksi TBS inti sebesar 230.800 ton dengan dukungan belanja modal Rp161 miliar yang difokuskan untuk replanting, penanaman baru, dan penguatan aset operasional guna menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.
Jurnalis Christy.
iklan 1
iklan 2






