
KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis temuan terbaru yang menggambarkan skala kerusakan besar akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Berdasarkan analisis citra satelit resolusi tinggi, sekitar 58.000 bangunan teridentifikasi mengalami kerusakan, dengan wilayah terdampak mencapai 90 persen dari total kawasan kabupaten tersebut.
Data ini menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan bersifat lokal, melainkan hampir melumpuhkan seluruh wilayah.
Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana BRIN, Joko Widodo, menjelaskan bahwa pemetaan dilakukan secara menyeluruh pascabencana untuk memastikan tingkat kerusakan secara akurat.
“Hasil analisis dari BRIN ada 58.000 bangunan kemungkinan terdampak. Kami mengamati dengan baik, Aceh Tamiang bisa dikatakan 90 persen terdampak,” ujar Joko, Kamis (8/1/2026), seperti dikutip dari Antara.
Temuan tersebut menjadi dasar penting bagi perencanaan penanganan dan pemulihan pascabencana.
Menurut BRIN, faktor geografis menjadi penyebab utama tingginya kerentanan wilayah. Aceh Tamiang berada di dataran banjir (flat plains) dengan Sungai Tamiang yang berukuran lebar membelah kawasan permukiman.
Kondisi ini membuat luapan air dengan mudah menyebar luas saat curah hujan ekstrem terjadi. Joko menilai, opsi relokasi warga bukan perkara sederhana karena luasnya area terdampak.
“Kalau kita merelokasi, kita akan seperti memindahkan kota. Wilayah itu memang sangat rentan banjir,” ungkapnya.
Sebagai alternatif relokasi, BRIN merekomendasikan pendekatan rekayasa teknik (engineering) untuk mitigasi jangka panjang.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah pembangunan pembatas atau sistem pengendali banjir guna mencegah luapan Sungai Tamiang masuk ke kawasan permukiman.
Langkah ini dinilai lebih realistis dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan geografis masyarakat setempat.
Tingkat kerusakan di lapangan disebut tergolong ekstrem. BRIN mencatat banyak rumah warga yang hanyut tersapu banjir hingga menyisakan fondasi, tanpa dinding maupun atap.
Gambaran ini menunjukkan besarnya energi aliran air yang melanda kawasan tersebut, sekaligus menjadi peringatan akan pentingnya mitigasi bencana berbasis sains dan tata ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Seluruh data hasil analisis BRIN telah disampaikan kepada Kementerian PPN/Bappenas sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan rekonstruksi wilayah Sumatera, khususnya Aceh Tamiang.
Selain itu, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengakses data pemetaan kerusakan secara terbuka melalui laman resmi BRIN di https://spectra.brin.go.id, sebagai bagian dari transparansi dan edukasi kebencanaan berbasis data ilmiah.





