KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com-— Rabu, 26 November 2025 | Update 13.00 WIB. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah sejak Selasa malam meninggalkan duka mendalam. Dalam laporan resmi Basarnas , tercatat 9 korban meninggal, 4 orang masih dalam pencarian, serta sejumlah warga mengalami luka-luka. Petugas menyebutkan bahwa pendataan masih berlangsung dan jumlah korban berpotensi bertambah.

Rentetan wilayah terdampak banjir membentang luas, mulai dari Kecamatan Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli hingga Kolang. Tak hanya banjir, longsor terjadi di 7 titik berbeda, menyebabkan akses jalan tertutup material lumpur dan bebatuan. Kondisi ini membuat beberapa kawasan terisolasi dan sulit dijangkau tim SAR.
Operasi penyelamatan dipusatkan dari Kapal KN SAR Nakula, di mana personel dibagi menjadi tiga tim evakuasi. Dua tim menyusuri banjir di Pandan, termasuk Simpang Pesantren dan Perumahan Pandan Asri menggunakan perahu karet, sementara tim ketiga membantu koordinasi di Posko Tapteng dan BPBD Sibolga. Upaya penyelamatan berlangsung di bawah hujan lebat yang membuat jarak pandang terbatas dan arus banjir semakin deras.
Di Tapanuli Tengah, data sementara menunjukkan 1.902 kepala keluarga terdampak, dengan Kecamatan Kolang menjadi wilayah paling parah yaitu mencapai 1.261 KK. Empat dari sembilan korban meninggal merupakan satu keluarga yang tertimbun longsor di daerah Pandan—teridentifikasi sebagai Dewi Hutabarat (33), dan ketiga anaknya. Sementara itu, GOR Pandan dipenuhi lebih dari 200 pengungsi, dan jumlahnya terus meningkat.
Informasi terbaru menyebutkan jembatan Fransiskus di Tukka putus akibat material longsor, membuat jalur utama ke Sibuluan Baru tidak dapat dilewati. Sementara itu, banjir setinggi lutut orang dewasa masih merendam sejumlah titik, termasuk Sibuluan Nauli dan Kelurahan Pondok Batu. Meski demikian, proses pembersihan jalan sudah mulai dilakukan menggunakan alat berat.

Di wilayah Kota Sibolga, jumlah warga hilang dilaporkan mencapai angka yang mengkhawatirkan. Dari Jalan Murai dan Jalan Kenanga Aek Habil saja, lebih dari 17 orang belum ditemukan. Delapan warga dinyatakan meninggal setelah tertimbun material tanah di empat lokasi berbeda. Petugas mengaku medan pencarian sulit karena kondisi tanah tidak stabil.
Upaya SAR dari luar daerah juga menghadapi hambatan besar. Gelombang laut tinggi membuat 21 personel Kansar Nias belum dapat bergerak, sementara tim dari Medan terhambat banjir setinggi pinggang orang dewasa di jalur darat. Pemadaman listrik dan jaringan komunikasi yang rusak semakin menghambat koordinasi tim di lapangan.
Meski dalam kondisi kritis, satu kabar baik muncul di tengah kesibukan evakuasi. Muhammad Azhar Hasibuan, Ketua Pengadilan Agama Sibolga yang sebelumnya dinyatakan hilang, ditemukan selamat bersama istri dan anaknya di posko SAR sementara. Laporan ini memberi sedikit kelegaan bagi keluarga korban lainnya yang masih menunggu kabar.
Hingga siang ini, operasi pencarian masih berlangsung dan diperkirakan terus berlanjut hingga malam. Basarnas mengimbau masyarakat agar tetap waspada mengingat cuaca ekstrem berpotensi memicu banjir susulan dan longsor lanjutan di beberapa wilayah.
Penulis:Anggriawan





