BULUKUMBA – KLTV INDONESIA http://klivetvindonesia.com
Sejumlah pemilik kafe di kawasan wisata Bira, Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap kinerja Asosiasi Kafe Bira. Mereka menilai organisasi yang semestinya memberi perlindungan, pendampingan, serta solusi atas berbagai persoalan justru tidak menunjukkan fungsi yang jelas. Keluhan menguat terutama ketika para pengusaha menghadapi intimidasi atau intervensi tamu dan pihak luar, namun tidak mendapat bantuan apa pun dari pihak asosiasi.
Kepada KLTV Indonesia, salah satu pemilik kafe mengungkapkan bahwa rasa kecewa muncul karena selama ini mereka rutin membayar iuran, tetapi tidak mendapatkan manfaat yang sebanding.
“Kami tergabung dalam asosiasi, setiap bulan bayar iuran, tapi kalau ada masalah, kami tetap sendirian. Tidak ada pembelaan, tidak ada turun tangan,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Di tengah kondisi ekonomi yang melemah, beban iuran Rp450.000 per bulan per kafe dirasa semakin berat. Para pengusaha menilai kewajiban finansial tersebut tidak relevan jika asosiasi tidak memberikan bentuk perlindungan maupun pendampingan nyata ketika persoalan muncul di lapangan.
“Untuk apa ada asosiasi kalau kerjanya hanya mengurus iuran? Fungsi dan manfaatnya harus nyata,” tegas pemilik kafe itu.
Kritik semakin menguat setelah muncul pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan di tubuh asosiasi. Sejumlah pengusaha mempertanyakan fakta bahwa Ketua Asosiasi Kafe Bira juga merupakan pengelola atau pemilik kafe di kawasan yang sama. Kondisi ini mereka nilai dapat menimbulkan kecemburuan sosial, potensi intervensi, serta ketidakpercayaan terhadap keputusan asosiasi.
“Kalau ketua asosiasi sekaligus pemilik kafe, ini rawan bias kepentingan. Semestinya diganti dan ada melibatkan pengamanan, ada pihak berwajib yang mengawasi, bukan dibiarkan berjalan tanpa kontrol,” ujar salah satu pemilik kafe lainnya.
Tidak hanya soal kinerja, para pengusaha juga secara tegas mempertanyakan arah penggunaan dana iuran yang dikumpulkan setiap bulan. Menurut mereka, hingga kini tidak ada transparansi mengenai untuk apa dana tersebut dipakai, apakah dialokasikan untuk pelayanan, keamanan, atau hal lain.
“Kemana arah dana iuran itu? Setiap kafe bayar, tapi tidak ada laporan, tidak ada manfaat. Seharusnya ada pengamanan, ada jaminan keamanan bagi pemilik dan karyawan,” kritik seorang pengelola kafe.
Minimnya kehadiran asosiasi ketika terjadi permasalahan, baik berupa ancaman keamanan maupun intervensi dari pihak luar, menjadi sorotan utama para pengusaha. Mereka menilai seharusnya asosiasi tampil sebagai mediator, penghubung dengan aparat keamanan, dan pemberi jaminan perlindungan bagi anggotanya. Namun kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
KLTV Indonesia telah berupaya menghubungi Ketua Asosiasi Kafe Bira, Adi anto, untuk meminta keterangan, klarifikasi, dan hak jawab atas berbagai keluhan tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan resmi. Media tetap membuka ruang konfirmasi sebagai bagian dari prinsip pemberitaan yang berimbang.
Sejumlah pemilik kafe kini menyatakan siap menghentikan pembayaran iuran apabila Asosiasi Kafe Bira tidak mampu memberikan penjelasan transparan mengenai tujuan organisasi, tugas pokok dan fungsi (tupoksi), serta pengelolaan dana yang sudah berjalan selama ini.
“Kami perlu kejelasan. Kalau tidak ada manfaat, tidak ada perlindungan, kami lebih baik berhenti membayar iuran,” tegas mereka.
Para pelaku usaha berharap polemik ini menjadi momentum evaluasi total bagi kepengurusan asosiasi agar kembali pada peran utama: melindungi, mendampingi, dan mengayomi para pengusaha kafe demi terciptanya iklim usaha yang sehat dan aman di kawasan wisata Bira, salah satu destinasi unggulan Kabupaten Bulukumba.
Bulukumba, 19 November 2025
Penulis: Drs Shaffry Sjamsuddin– KLTV INDONESIA





