“PSSI Didesak Berbenah Total! Pengamat: Ganti Pelatih Tak Akan Ubah Nasib Timnas Jika Akar Masalah Tak Diselesaikan”

JAKARTA-KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com,Jakarta — Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, akhirnya angkat bicara untuk meredam spekulasi mengenai kemungkinan kembalinya Shin Tae-yong sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia. Dalam keterangannya, Erick menegaskan bahwa baik Shin Tae-yong (STY) maupun Patrick Kluivert — yang belum lama ini dilepas dari kursi pelatih Garuda — merupakan bagian dari masa lalu. PSSI, kata Erick, kini fokus menatap masa depan dengan arah dan pembenahan baru.

Pernyataan tersebut sontak memicu beragam tanggapan di kalangan pengamat dan pecinta sepak bola Tanah Air. Banyak pihak menilai, pergantian pelatih semata tidak akan banyak mengubah nasib timnas jika struktur dan manajemen di tubuh PSSI sendiri tidak mengalami pembenahan serius.

Salah satu pengamat sepak bola , (FRANS KATO) yang diwawancarai Media KLTV Indonesia, menilai bahwa akar persoalan utama Timnas bukan hanya soal taktik atau pelatih, tetapi sistem pembinaan yang masih lemah. “Kalau PSSI tidak berbenah, siapa pun pelatihnya tetap akan kesulitan. Kita tidak bisa berharap hasil besar dari pondasi yang belum kuat,” ujarnya dengan tegas.

Ia juga menyoroti bagaimana inkonsistensi dalam pengambilan keputusan di tubuh federasi sering menjadi penghambat kemajuan sepak bola nasional. Menurutnya, visi jangka panjang dan keberanian melakukan evaluasi menyeluruh harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mencari figur populer di kursi pelatih.

Di sisi lain, publik masih terbelah antara kerinduan terhadap sosok Shin Tae-yong yang dikenal disiplin dan tegas, serta keingintahuan terhadap siapa pengganti yang akan menakhodai skuad Garuda berikutnya. Beberapa fans bahkan menyerukan agar PSSI lebih transparan dalam proses perekrutan dan rencana pembinaan tim nasional ke depan.

 

Menurutnya, Langkah Erick dinilai sebagai upaya menjaga fokus dan stabilitas internal federasi. Namun, bagi sebagian pengamat, pernyataan itu belum cukup menenangkan kekhawatiran publik terhadap pola lama PSSI yang sering kali terjebak dalam “siklus kegagalan yang berulang”.

Pengamat lain juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada PSSI hanya bisa tumbuh jika ada bukti nyata dari reformasi yang dijanjikan. “Kalau tidak ada perubahan struktural, maka hasilnya akan tetap sama. Indonesia akan terus kalah bukan karena kurang talenta, tapi karena sistem yang tidak sehat,” pungkasnya.

Kini, bola panas berada di tangan Erick Thohir dan jajaran PSSI. Publik menunggu bukti, bukan lagi janji. Harapan masih besar, tapi waktu tak bisa terus diulang. Jika benar ingin mengangkat martabat sepak bola Indonesia, pembenahan internal harus dimulai sekarang—sebelum sorak suporter berubah menjadi sindiran yang menyakitkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *