Sidoarjo –KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren Al-Khoziny, Desa Sawahan, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Senin (29/9/2025), sebuah musala di kompleks ponpes tersebut ambruk ketika puluhan santri tengah berada di dalamnya. Ratusan santri dilaporkan menjadi korban, sementara proses evakuasi hingga Selasa (30/9/2025) masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Berdasarkan laporan resmi BPBD Sidoarjo, robohnya bangunan disebabkan struktur atap kayu yang masih dalam tahap pengecoran tidak mampu menahan beban. Reruntuhan menimpa para santri yang sedang beraktivitas, sehingga menimbulkan kepanikan luar biasa.
Hingga berita ini diturunkan, tercatat 100 orang menjadi korban, dengan rincian 26 orang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, 70 santri sudah diperbolehkan pulang, 1 dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto, dan 3 santri dinyatakan meninggal dunia. Adapun korban meninggal yakni Maulana Alfan Ibrahimavic, Mochammad Mashudulhaq, dan Muhammad Soleh, masing-masing berasal dari Surabaya dan Bangka Belitung.
Sementara itu, sejumlah rumah sakit di Sidoarjo dan sekitarnya menjadi tempat rujukan utama. RSUD RT Notopuro merawat 40 pasien dengan 2 di antaranya meninggal dunia. RS Siti Hajar menerima 52 pasien, 11 masih dirawat inap, 39 sudah pulang, dan 1 pasien dirujuk. RS Delta Surya merawat 6 pasien, RS Sheila Medika 1 pasien, serta RS Unair Surabaya 1 pasien.
Proses evakuasi korban masih berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Sidoarjo, Basarnas, TNI, Polri, Tagana Dinsos, hingga Dinas PU SDA yang menurunkan 3 unit excavator untuk membantu mengangkat puing-puing bangunan.
Plt. Kalaksa BPBD Sidoarjo menyampaikan bahwa seluruh personel terus berkoordinasi dengan perangkat desa serta pihak pondok pesantren. “Saat ini fokus utama kami adalah menyelamatkan korban yang masih mungkin tertimbun reruntuhan. Semua sumber daya dikerahkan agar evakuasi berjalan cepat dan aman,” ujarnya.
Tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan, khususnya pondok pesantren dan lembaga keagamaan, agar lebih memperhatikan aspek keamanan dan kualitas konstruksi bangunan. Pihak BPBD dan aparat setempat mengimbau seluruh pengelola fasilitas pendidikan maupun keagamaan untuk melakukan pengecekan berkala demi menghindari peristiwa serupa.
Hingga Selasa siang, tim gabungan masih berjibaku di lokasi untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di bawah puing. Masyarakat sekitar pun turut membantu dengan memberikan dukungan moral serta bantuan logistik untuk para korban dan petugas di lapangan.
Peristiwa ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny ini meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi dunia pendidikan Islam di Jawa Timur. Semua pihak berharap proses evakuasi berjalan lancar dan para korban segera mendapatkan penanganan terbaik.
Penulis:Ari Tim KLTV Indonesia
–








