Kritik Tajam Tokoh Pemuda Makassar: Program MBG Terancam Kehilangan Kepercayaan Publik

MAKASSAR – KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com-– Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat sebagai solusi menekan angka anemia, gizi buruk, dan stunting kini justru menuai sorotan tajam. Pasalnya, muncul data terbaru dari istana yang menyebutkan terdapat sekitar 5.000 siswa menjadi korban akibat program tersebut. Data ini menimbulkan kegelisahan publik, khususnya para orang tua.

Hanif Aji Muslim, S.Pd., M.Pd., seorang tokoh pemuda sekaligus pemerhati pendidikan di Makassar, menyampaikan kritik dan pesan mendalam kepada pemerintah serta Badan Gizi Nasional. Ia menilai, tujuan awal MBG yang seharusnya menyehatkan anak bangsa malah berbalik menjadi masalah serius yang bisa mengancam masa depan generasi muda.

Bacaan Lainnya
“Ini sungguh memprihatinkan. Awalnya program ini sangat baik, tapi kenyataannya justru menimbulkan korban. Kalau dibiarkan tanpa evaluasi, orang tua siswa bisa kehilangan kepercayaan dan melarang anaknya mengonsumsi MBG,” tegas Hanif saat diwawancarai KLTV Indonesia, Selasa (23/9/2025).

Tidak hanya itu, Hanif juga menyoroti Dugaan adanya dokumen rahasia berupa surat perjanjian yang kabarnya wajib dirahasiakan bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti kasus keracunan massal. Menurutnya, hal ini justru kontraproduktif dan melanggar prinsip keterbukaan informasi publik.

“Seharusnya transparan. Data dan perjanjian semacam ini penting diketahui masyarakat agar bisa menjadi bahan kajian bersama,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan dua poin penting yang ditujukan kepada pemerintah Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar. Pertama, bila program MBG tidak segera dievaluasi secara menyeluruh, sebaiknya dihentikan demi keselamatan siswa. Kedua, pengelolaan program sebaiknya diserahkan langsung ke pihak sekolah agar lebih terawasi oleh guru maupun orang tua.

“Sekolah punya kedekatan langsung dengan siswa dan orang tua. Dengan begitu, orang tua bisa ikut bersinergi dalam memastikan makanan bergizi benar-benar sehat dan aman untuk dikonsumsi,” tambahnya.

Hanif meyakini, jika dua langkah itu diterapkan, kepercayaan masyarakat bisa kembali pulih, dan program MBG akan memberikan dampak positif nyata bagi gizi anak bangsa. Ia pun mengingatkan, jangan sampai niat baik pemerintah berubah menjadi bumerang karena lemahnya pengawasan dan minimnya evaluasi.

Kritik ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah maupun pusat, terutama dalam mengelola program yang menyangkut kesehatan generasi penerus. Transparansi, evaluasi, dan sinergi dengan sekolah diyakini menjadi kunci agar MBG benar-benar menjadi solusi, bukan masalah baru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *