Menguak Tabir di Balik Aksi Anarkis Jakarta: Bayaran Nasi Bungkus hingga Rencana Jarahan

JAKARTA – KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com-– Tiga hari terakhir, Jakarta diguncang gelombang aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Fasilitas umum terbakar, halte Transjakarta hangus, bahkan rumah pribadi pejabat menjadi sasaran penjarahan. Akibat dari hal itu muncul sejumlah pertanyaan siapa sebenarnya mereka yang berada di balik kerusuhan tersebut ?

Hasil investigasi mengungkap cerita mengejutkan. Seorang pemuda yang kami sebut Ahu (bukan nama sebenarnya) duduk lemas di trotoar dekat Kompleks Parlemen Senayan. Terpisah dari rombongan, ia mengaku sudah dua hari tak makan. “Saya ikut karena diajak abang-abangan kampung,” tuturnya pelan.

Pengakuan Ahu menyingkap pola yang lebih terstruktur. Ia bercerita telah delapan kali ikut aksi sebagai bagian dari “tim pemukul”. Tiga di antaranya terjadi di Kompleks Parlemen. Semua pergerakan diatur oleh seorang perekrut berinisial R, termasuk rencana pembuatan 160 bom molotov serta pengadaan petasan dan kembang api untuk menyerang.

Rombongan Ahu berangkat dari Cimahi dengan sepeda motor, menjemput tambahan massa dari Bandung Barat, Cianjur, Sukabumi, hingga Bogor. Konvoi besar itu berpelat nomor F, E, dan B, membawa sekitar 600 orang. Sebelum menyerbu Senayan, mereka sempat berunjuk rasa di Tangerang.

Sesampainya di Kompleks Parlemen, massa langsung bertindak brutal. Pagar dilempari, petasan diledakkan, dan bom molotov melayang ke arah aparat. Di sisi lain, beberapa anggota rombongan menyasar halte-halte Transjakarta. Api membumbung, sementara yang lain menyiarkan aksinya secara langsung di TikTok.

Lebih mengejutkan, Ahu menyebut bahwa target utama bukan sekadar fasilitas umum, melainkan rumah-rumah anggota dewan. “Kami hanya dikasih makan nasi bungkus. Bayarannya dari jarahan,” katanya. Ia mengaku tak tahu nama pejabat yang rumahnya disasar, tetapi rencana itu sudah dibicarakan sejak awal perjalanan.

Namun, nasib berkata lain. Tanpa ponsel dan jaketnya yang ditahan R, Ahu gagal ikut konvoi menuju Jakarta Utara, tempat beberapa rumah pejabat diserbu. Saat ditunjukkan video penjarahan rumah milik anggota DPR Sahroni, ia tercekat. Ia mengenali wajah beberapa pelaku—salah satunya orang yang merampas barang-barangnya.

Pengakuan ini menambah daftar panjang misteri di balik kerusuhan Jakarta. Siapa sebenarnya otak di balik perekrutan massa, dan apa tujuan sesungguhnya dari serangkaian aksi anarkis ini? Pertanyaan itu masih menggantung, menunggu jawaban dari aparat penegak hukum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *