SULSEL – KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Jeneponto – Siapa sangka, seorang anak kecil yang memiliki keterbatasan dulu hanya berkeliling menjajakan es di sekolah dasar kini tumbuh menjadi jurnalis di Sulawesi Selatan. Kisah Ikbal Nakku, warga Rumbia, Kabupaten Jeneponto, menjadi cerita inspiratif tentang perjuangan, kesederhanaan, dan keyakinan pada kuasa Allah SWT.
Sejak duduk di bangku kelas 3 SDN 1 Rumbia, Ikbal kecil sudah terbiasa mengisi waktu istirahat dengan menjual es kepada teman-temannya. Selesai sekolah, ia kembali berjualan untuk membantu kebutuhan sehari-hari bersama almarhumah nenek yang merawatnya. Hidup sederhana, tanpa banyak pilihan, menjadikannya terbiasa bekerja keras sejak kecil.
Namun, saat hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP, Ikbal dihadapkan pada kenyataan pahit: tidak ada biaya. Di tengah kegelisahan itu, ia justru memperbanyak ibadah. Puasa Senin-Kamis, shalat lima waktu, hingga doa-doa panjang ia panjatkan. Hingga suatu hari, Ikbal menemukan emas di jalan menuju masjid saat hendak menunaikan shalat zuhur. Baginya, itu bukan kebetulan, melainkan pertolongan Allah SWT. Uang hasil penjualan emas itulah yang kemudian menjadi jalan baginya mendaftar ke SMP 1 Rumbia.
Berkat bantuan biaya pendidikan dari pemerintah Kabupaten Jeneponto pada tahun 1999, Ikbal akhirnya bisa menyelesaikan sekolah menengah pertamanya. Semua itu ia syukuri sebagai wujud nyata kasih sayang Allah yang selalu datang di saat genting.
Perjuangan tak berhenti di sana. Saat ingin melanjutkan ke SMK 2 Jeneponto, ibunya kembali menegaskan bahwa biaya sekolah tidak ada. Meski begitu, Ikbal tidak patah arang. Ia kembali menekuni ibadah, memperbanyak shalat, puasa, dan tahajud. Hingga suatu hari, sebuah kejadian serupa terulang: ia menemukan emas di dekat masjid Kecamatan Rumbia. Peristiwa itu kembali ia maknai sebagai petunjuk dari Allah SWT. Berkat penemuan tersebut, ia mampu mendaftar ke SMK dan kembali mendapat bantuan biaya pemerintah hingga tamat.
Kisah masa kecil Ikbal adalah potret nyata perjuangan anak desa yang bermodal doa dan usaha. Dari menjual es, hidup serba kekurangan, hingga akhirnya mampu melanjutkan pendidikan dan berkarya di dunia jurnalistik, semuanya ia lalui dengan penuh keyakinan dan rasa syukur.
“Kalau bukan karena pertolongan Allah, mungkin saya tidak bisa sekolah. Tapi saya percaya, setiap usaha yang diiringi doa pasti akan ada jalannya,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, perjalanan Ikbal tak hanya menjadi pengingat bagi dirinya sendiri, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda Jeneponto dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Bahwa kerja keras, kesabaran, dan keyakinan pada Tuhan adalah kunci utama menembus segala keterbatasan.
“Jangan pernah malu memulai dari bawah. Saya saja pernah menjual es di sekolah. Yang penting, kita punya niat baik, kerja keras, dan doa yang tidak pernah putus. InsyaAllah akan ada jalan menuju keberhasilan,” pesan Ikbal penuh semangat.
Kisah Ikbal menjadi bukti nyata bahwa tidak ada keterbatasan yang mampu menghalangi mimpi, selama ada keyakinan dan usaha yang tulus. Untuk para generasi muda, cerita ini adalah cermin bahwa kesuksesan tidak datang instan, tetapi lahir dari perjalanan panjang, air mata, dan doa yang tak pernah henti.
*AA





