KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com–
Oleh: Tony Semesta
Sebuah penegasan tentang makna cinta yang matang. Cinta sejati, menurut Fromm, tidak lahir dari hasrat untuk memiliki atau mengubah, melainkan dari penerimaan yang tulus terhadap keberadaan orang lain. Dalam relasi yang didorong oleh ego, kita sering kali tidak benar-benar mencintai seseorang—kita hanya mencintai versi ideal yang kita ciptakan, seseorang yang sesuai dengan kebutuhan, harapan, atau rasa aman kita. Ini bukan cinta, melainkan refleksi dari ketakutan untuk menghadapi kenyataan bahwa orang lain adalah makhluk bebas, bukan cermin dari diri kita.
Cinta yang sehat menuntut keberanian untuk melihat dan menerima orang lain apa adanya—dengan luka, kekurangan, dan kompleksitasnya. Fromm menyampaikan bahwa mencintai bukan berarti menguasai atau membentuk seseorang agar cocok dengan keinginan pribadi, melainkan menghargai kebebasan dan keunikan mereka. Dalam konteks ini, cinta menjadi tindakan yang aktif dan sadar, bukan sekadar emosi atau dorongan. Ia mengakar pada penghormatan, tanggung jawab, dan pengetahuan—bukan pada pengorbanan diri yang membutakan, tetapi pada pengakuan bahwa mencintai seseorang berarti memberi ruang baginya untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.
Dengan demikian, kutipan ini mengajak kita untuk memeriksa ulang niat di balik cinta. Apakah kita mencintai seseorang karena siapa dia sebenarnya, atau karena siapa dia dalam imajinasi kita? Bila yang kedua, maka kita sedang jatuh cinta pada pantulan ego kita sendiri, bukan pada individu yang nyata. Cinta yang sejati justru dimulai ketika kita berhenti berusaha mengendalikan dan mulai belajar menerima. Dan di situlah, menurut Fromm, cinta menemukan bentuknya yang paling manusiawi.





