Mahasiswa KKN UNHAS Gelar Demo Pembuatan Obat Herbal Tanggap PMK di Tondongkura

PANGKEP-KLTV INDONESIA

klivetvindonesia.com,Tondongkura, Pangkep — Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penanggulangan penyakit hewan menular khususnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gelombang 114 Universitas Hasanuddin (UNHAS) menggelar kegiatan demonstrasi pembuatan obat herbal sebagai solusi alternatif dan cepat tanggap terhadap PMK.

Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 30 Juli 2025, pukul 10.00 WITA, bertempat di Aula Kantor Desa Tondongkura, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep. Demonstrasi ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang diusung oleh mahasiswa KKN UNHAS sebagai bentuk kontribusi terhadap sektor kesehatan hewan dan ketahanan peternakan masyarakat desa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting baik dari unsur pemerintahan maupun masyarakat setempat. Di antaranya Maslan Gappa selaku Kasi Pemerintahan Kecamatan Tondong Tallasa, Asmawi selaku Sekretaris Desa Tondongkura, Serda Anwar Tiwi yang merupakan Babinsa Desa Tondongkura, Bahrun selaku Ketua PPL Desa Tondongkura, serta para Kepala Dusun, Ketua RT/RK, tokoh masyarakat, dan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin maupun Universitas Patria Arta (UPA).

Acara diawali dengan pembukaan resmi oleh panitia pelaksana, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti seluruh peserta sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat kebangsaan dan persatuan. Selanjutnya, beberapa sambutan disampaikan oleh perwakilan pemerintah desa, Babinsa, serta koordinator KKN UNHAS, yang menekankan pentingnya edukasi alternatif dalam penanganan penyakit ternak.

Pada sesi inti, mahasiswa KKN mempraktikkan secara langsung cara pembuatan obat herbal berbahan alami yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Obat herbal tersebut dirancang sebagai solusi preventif dan kuratif terhadap gejala PMK, sekaligus menjadi edukasi praktis bagi para peternak lokal agar lebih mandiri dalam menjaga kesehatan ternaknya.

Diskusi interaktif kemudian digelar, melibatkan masyarakat dan perangkat desa. Banyak peserta yang antusias bertanya mengenai dosis, efektivitas, dan penerapan langsung dari obat herbal tersebut, menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menarik secara akademis, namun juga sangat relevan dengan kebutuhan lapangan.

Di akhir acara, seluruh peserta menyatakan dukungannya agar kegiatan semacam ini terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak lapisan masyarakat. Harapannya, Desa Tondongkura dapat menjadi contoh dalam pengelolaan kesehatan ternak berbasis kearifan lokal dan inovasi mahasiswa.

Kegiatan pun ditutup secara resmi dengan ucapan terima kasih dari pihak pemerintah desa dan mahasiswa KKN, diiringi semangat kolaborasi lintas institusi demi kemajuan desa yang sehat, tangguh, dan mandiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *