Abraham Samad Siap Hadapi Siapa pun yang Bermain di Kasus Ijasah Jokowi: “Sampai Titik Darah Penghabisan!”

JAKARTA – KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com-– Suasana memanas saat deklarasi bertema “Tolak Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis” digelar di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta, pada Rabu (23/7/2025). Dalam acara tersebut, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, menyampaikan sikap tegas dan lantang terkait polemik yang terus berkembang soal dugaan kasus ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

 

Dalam pidatonya yang di Langsir dari KOMPAS TV, Abraham Samad menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam menyaksikan upaya kriminalisasi terhadap akademisi maupun aktivis yang bersuara kritis atas kasus ini. Bahkan, ia menyatakan siap menghadapi siapa pun yang berusaha melindungi kepentingan tertentu di balik polemik ini.

 

“Siapa pun yang bermain di dalam kasus ini, baik oknum aparat atau oknum di belakang Jokowi, akan saya hadapi sampai titik darah penghabisan,” tegas Abraham Samad di hadapan para peserta deklarasi, yang terdiri dari akademisi, aktivis, dan tokoh masyarakat.

 

 

 

 

 

Menurut Abraham, suara kebenaran harus terus disuarakan, apapun risikonya. Ia menyebut bahwa demokrasi akan mati jika rakyat takut mengkritik kekuasaan. Oleh karena itu, Abraham menegaskan komitmennya untuk berdiri di garda terdepan dalam membela mereka yang dikriminalisasi hanya karena berani bertanya dan mengungkapkan pendapat.

 

 

 

 

 

Deklarasi ini digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap para akademisi dan aktivis yang kini tengah menghadapi tekanan hukum karena menyuarakan kritik dan dugaan terhadap keabsahan dokumen ijazah Presiden Jokowi. Isu ini mencuat kembali setelah beberapa tokoh publik mengajukan gugatan dan permintaan klarifikasi, namun justru mendapat respons represif.

 

Acara di Gedung Joang ’45 itu juga menjadi ajang konsolidasi lintas elemen sipil yang menyerukan transparansi, kejujuran, dan perlindungan terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia.

 

 

 

Menutup orasinya, Abraham menyampaikan bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan politik, tapi demi masa depan demokrasi yang sehat.

 

“Jika suara rakyat dibungkam, jika aktivis dan akademisi dibungkam, maka ke mana lagi kita berharap perubahan? Saya akan terus bersuara demi keadilan,” tutupnya disambut tepuk tangan peserta.

 

 

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *