Strategi Baru Kementerian Kebudayaan? Kolaborasi Lintas Sektor dan Pameran Perang Diponegoro Jadi Sorotan

https://klivetvindonesia.com, Jakarta, 21 Juli 2025 — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia semakin mengukuhkan perannya dalam pemajuan kebudayaan nasional melalui langkah strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Komitmen ini tercermin dari sejumlah agenda penting yang digelar secara nasional maupun internasional, termasuk pemberian penghargaan bergengsi dan penyelenggaraan pameran sejarah yang monumental.

Dalam upaya memperkuat identitas bangsa dan mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian warisan budaya, Kementerian Kebudayaan aktif membangun kolaborasi lintas sektor dengan komunitas budaya, akademisi, dan institusi internasional.

 

“Pemajuan kebudayaan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi lintas sektor agar warisan budaya kita tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dengan generasi masa kini,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/7/2025).

 

Salah satu momen bersejarah terjadi pada Kompetisi Kaligrafi Internasional ke-13 yang diselenggarakan oleh Istanbul Research Center for Islamic Culture and Arts (IRCICA). Sebanyak 10 seniman kaligrafi dari Indonesia berhasil meraih penghargaan dalam ajang prestisius tersebut.

 

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi seniman Indonesia dalam mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, sekaligus menunjukkan bahwa seni Islam di Indonesia memiliki daya saing tinggi secara global.

 

“Ini bukti bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta dalam bidang kesenian Islam. Kaligrafi adalah bagian dari warisan budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Fadli Zon.

 

Masih dalam semangat pelestarian budaya dan sejarah nasional, Kementerian Kebudayaan juga mempersembahkan pameran bertajuk “NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian menuju peringatan 80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Pameran “NYALA” tidak hanya menampilkan artefak sejarah, lukisan, dan dokumen penting tentang Perang Diponegoro, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merefleksikan nilai perjuangan, keberanian, dan semangat melawan penjajahan dalam konteks kebudayaan masa kini.

 

“Perang Diponegoro adalah simbol perlawanan atas ketidakadilan. Melalui pameran ini, kami ingin menyalakan kembali semangat nasionalisme di tengah masyarakat, khususnya generasi muda,” tambah Menteri Fadli Zon.

 

Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari kampanye digital bertajuk AgendaMenbud, yang bertujuan meningkatkan partisipasi publik dalam isu-isu kebudayaan. Tagar ini ramai diperbincangkan di media sosial sebagai bentuk dukungan atas langkah progresif Kementerian dalam mendekatkan kebijakan budaya kepada masyarakat luas.

 

Langkah-langkah strategis yang diambil Kementerian Kebudayaan, dari panggung internasional hingga ruang-ruang pameran nasional, mencerminkan tekad kuat untuk menjadikan budaya sebagai pilar utama pembangunan bangsa. Kolaborasi lintas sektor yang dijalankan menjadi bukti bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, demi memperkuat jati diri Indonesia di tengah arus globalisasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *