Klivetvindonesia.com, Matim – Berbicara tentang para penyandang cacat, kita perlu melihatnya dari berbagai aspek, seperti sosial, agama, pendidikan, dan sebagainya.
Dimensinya juga berbeda, ada yang cacat sejak lahir ada juga yang bersifat accidental. Namun bagaimana pun, tak ada manusia yang ingin dilahirkan dalam keadaan cacat atau diberi kecacatan di pertengahan hidupnya. Oleh sebab itu sudah sepantasnya kita menunjukkan kasih sayang kepada mereka.
Dalam Undang-undang, sejatinya para penyandang cacat haruslah diberikan fasilitas lebih oleh negara, meliputi fasilitas kesehatan, pendidikan, dan umum. Sebagai warga negara, mereka juga sangat berhak memperoleh pertanggungjawaban dari negara. Pada beberapa pasal disebutkan pula, bahwa setiap warga berhak hidup sejahtera lahir dan batin serta bertempat tinggal di lingkungan hidup yang baik serta berhak mendapatkan layanan kesehatan.
Namun, isi Undang-undang tersebut tidak dirasakan oleh ketiga orang yang berasal dari Dusun Lando, Desa Paan Waru, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur atas nama Antonius Mandur, Tadeus Maki dan Susana Kila.
Antonius Mandur lahir di Lando, pada tanggal 9 November 1975. Sejak lahir Anton mengalami cacat. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Anton terpaksa harus bekerja keras seperti manusia normal lainnya. Pekerjaan pokok Anton adalah petani tulen, Anton tinggal bersama keluarganya.
Tadeus Maki, Lahir di Lando, pada tanggal 11 November 1978. Nasib Tadeus sama seperti Anton Mandur, walaupun agak berat untuk bekerja namun demi mendapatkan nasi sepiring, Ia harus bekerja di kebun. Tadeus dan Anton adalah Kakak beradik dan tinggal bersama dirumahnya Geradus Dandung.
Pekerjaan pokok keluarga yang merawat Tadeus dan Antonius adalah petani tulen.
Susana Kila, adalah anak ketiga dari 6 bersaudara. Susan, Putri dari pasangan suami istri Stanis Mbaling dan Agata Gawas.
Susan lahir di Lando pada tanggal 10 Agustus 1998, sejak lahir Susan mengalami cacat. Susan tinggal bersama orangtuanya, pekerjaan pokok orang tua Susan adalah petani. Kadang, ayah Susan harus menjual ikan dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketiga orang tersebut sama-sama berasal dari satu kampung, kampung yang selalu viral di media sosial saat musim hujan, dimana mobil dan motor bisa nginap sampai 3/4 hari karena insfratruktur yang tidak mendukung.
Sejauh ini mereka bertiga belum mendapatkan bantuan secara khusus dari pihak manapun.
Antonius Mandur, ketika dikonfirmasi media ini di kediamannya, di Lando, Desa Paan Waru, Kecamatan Elar Selatan pada Kamis, 12/08/2021 mengatakan, Dirinya sangat merindukan bantuan dari pemerintah atau dari pihak manapun, karena sejauh ini mereka belum sama sekali merasakan bantuan dari Pemerintah.
Anton berharap ada instansi yang ingin memberikan mereka bantuan seperti Pakaian, sembako dll, yang bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
“Saya sudah tua, fisik saya sudah tidak mampu bekerja berat, saya hanya mendoakan semoga ada yang bisa memperhatikan kami” ungkap Anton.
Sementara itu di tempat yang sama Dius mengatakan, Dirinya sangat bersyukur dengan keadaan yang ada, karena menurutnya, cacat itu bukan berarti harus putus asa, cacat itu adalah suatu keistimewaan yang diberikan Allah kepada kami, tandasnya.
Susana Kila, mengaku bahwa sejauh ini dirinya belum pernah mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah, Ia hanya bertahan hidup karena kerja keras dari kedua orang tuanya.
“Saya tidak pernah mendapatkan bantuan, saya bisa hidup sampai saat ini karena perjuangan dari kedua orang tua saya yang tidak pernah menyerah”, kata Susan.
Untuk diketahui, mereka bertiga bisa berbicara normal, namun kaki dan tangan mereka yang mengalami kecacatan.
Salurkan bantuan anda, karena apa yang kalian berikan sangat berarti bagi mereka.
Penulis/Editor : Quin Reman





