Tragis, Bocah 11 Tahun Tewas Tenggelam di Saluran Irigasi Kampili Gowa

 

GOWA – KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com– 14 Mei 2025 – Seorang bocah laki-laki bernama Reyhan Iskandar (11), warga Dusun Bontobila, Desa Julubori, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di saluran irigasi Kampili pada Rabu (14/5) sore.

 

Peristiwa memilukan ini terjadi sekitar pukul 15.30 WITA saat Reyhan tengah bermain bersama dua temannya, Fais (9) dan Andika (10), di sekitar saluran irigasi yang berada di dusun mereka. Tanpa diduga, Reyhan melompat ke dalam aliran air dan langsung terseret arus deras.

 

Kedua temannya sempat mencoba menolong, namun gagal menjangkau tangan Reyhan yang melambai-lambai meminta bantuan sebelum akhirnya hilang ditelan arus.

 

 

Mengetahui kejadian tersebut, warga setempat segera melakukan pencarian menyusuri saluran irigasi. Setelah satu setengah jam, tepatnya pukul 17.00 WITA, jasad Reyhan ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka di Dusun Bontobila.

 

 

Pj. Kepala Desa Julubori, dalam laporannya kepada Camat Pallangga, menyampaikan bahwa insiden ini menjadi pukulan berat bagi warga dan keluarga korban. Tidak ada kerugian material yang tercatat, namun nyawa seorang anak menjadi korban akibat kurangnya pengawasan dan minimnya sistem pengamanan di lokasi irigasi.

 

Dari analisa kejadian, saluran irigasi Kampili diketahui memiliki arus yang cukup deras dan tidak dilengkapi dengan tanda peringatan atau pagar pengaman. Kondisi ini membuat area tersebut berbahaya, khususnya bagi anak-anak yang tidak memahami risiko bermain di sekitar aliran air.

 

 

Sebagai respons, pihak desa bersama warga dan aparat setempat telah melakukan tindakan darurat, termasuk evakuasi korban dan pelaporan ke pihak berwenang. Ke depan, Pemerintah Desa Julubori merekomendasikan:

1. Pemasangan rambu peringatan bahaya di sekitar saluran irigasi.

2. Kampanye kesadaran kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan orang tua, terkait bahaya bermain di saluran air.

3. Pemasangan pagar pembatas di titik-titik rawan.

4. Patroli berkala oleh BPBD dan aparat keamanan untuk mencegah kejadian serupa.

 

 

“Kami berharap tragedi ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan keamanan di sekitar infrastruktur publik. Anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Pj. Kepala Desa Julubori.

 

 

 

Dengan adanya kejadian ini, diharapkan langkah-langkah preventif dapat segera diimplementasikan guna melindungi keselamatan masyarakat, terutama anak-anak di kawasan rawan.

 

#ARI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *