Opini : FRANS KATO
KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Jangankan orang lain yang bukan orang Ende , orang Ende Lio , saja belum tentu tahu akan harfia dari Istilah tersebut , khususnya generasi Genz dan Alfa . Begitu juga dengan istilah Ateria, Atelo’o , Atere’e hingga Turutena sampai Sesingande dan Auleda Moda .
Istilah – istilah tersebut di era tahun 70 – 90 cukup memasyarakat dikalangan warga masyarakat Kabupaten Ende Flores NTT. Namun , seiring dengan perkembangan zaman istilah tersebut tidak lagi sepopuler di era itu .
Maka sehubungan dengan hal itu , kita juga perlu mengetahui tentang harfia
” Petu Pibha Keta Kepo”, merupakan istilah yang pengertian-nya sangat luas maka orang bijak suka menuturkan hal tersebut untuk menggambarkan tentang dinamika kehidupan di masyarakat yang berhubungan dengan perilaku orang – orang licik, dimana mereka mau menerima sesuatu jika hal itu baik dan jika buruk ,maka mereka akan menolaknya .
orang – orang yang bermental ” Petu Pibha Keta Kepo ” itu sepertinya
tidak mau bekerja keras tapi lebih suka mendapatkan sesuatu dengan cara yang muda.
“Petu Pibha Keta Kepo” juga menggambarkan
sebuah peristiwa, baik yang adem maupun yang panas , misalnya ada demo yang berkaitan dengan Upa Buruh di sebuah perusahan ,maka orang – orang yang bermental Petu Pibha Keta Kepo tersebut , mereka akan menghindar dari demo itu dan pilih zona aman dan jika tuntutan kenaikan Upa Buru itu terpenuh baru mereka mau bergabung
dengan teman – teman-nya. dan mereka tampil didepan dan sepertinya mau menyatakan bahwa keberhasilan itu dicapai adalah perjuangan
mereka.
orang – orang yang bermental demikian lebih cocok kalau kita sebut mereka , orang yang bermuka dua dan berjiwa kepura – puraan- maka kita sebut mereka orang munafik .
Di suksesi pemilihan calon kepala daerah , orang yang bermental
Petu Pibha Keta Keppo ini mereka tak mau bekerja keras dan tak mau rela berkorban dan tak mau bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban kepadanya tapi jika calon nya berhasil, kelompok Petu Pibha Keta Kepo ini mereka tampil di depan dan mau
menyatakan
bahwa keberhasilan itu merupakan kerja keras dari mereka .
Di organisasi orang yang bermental demikian , jika diberi tugas dan bebannya berat dan butuh biaya besar maka kelompok Petu Pibha Keta Kepo ini mereka akan menghindar dan tak mau pusing peduli dengan urusan tersebut
tapi jika kegiatan organisasi yang menguntungkan dan bisa mendapatkan dana besar maka kelompok yang bermental Petu Pibha Keta Kepo ini mereka tak segan menawarkan kegiatan itu , mereka yang tangani karena dibalik itu mereka akan meraut keuntungan .
Dilembaga pendidikan yang kerja keras mendidik dan membina anak didik untuk mengikuti jalan-nya proses belajar yaitu guru dan ketika anak didik itu berhasil meraih prestasi pada
perlombaan maka yang tampil di depan yaitu orang bermental Petu Pibha Keta Kepo tanpa ada rasa malunya . Tapi jika anak didik itu gagal , dan tidak cerdas maka jari telunjuk akan menunjuk pada guru . Begitu juga dengan panen raya Padi
yang tampil didepan untuk foto sambil megang Celurit dan memotong batang padi yaitu kelompok “Petu Pibha Keta Kepo ” bukan Petani dan petugas penyuluhan tapi jika panen gagal mereka inilah yang disalahkan .
Selain harfia yang disebutkan di atas masih ada istilah lainya seperti Ateria yaitu orang yang tega dan tak mau peduli dengan oran lain , Atelo’o yaitu orang yang suka irihati, Atere’e orang yang tidak suka melihat orang sukses . Sedangkan Auleda Moda yaitu orang yang bicaranya pling – plang , pagi kata tahu , sore kata tempe.
Sedangkan Turutena yaitu orang yang tidak ikut menangkap ikan tapi ketika perahu nelayan bermuatan Ikan merapat ke bibir pantai, maka orang disekitarnya merapat ke perahu dan mereka ikut mendapat kebagian Ikan maka orang itu disebut Turutena karena tidak kerja keras tapi mendapat kebagian Ikan. Sedangkan Sesingande yaitu sapaan yang dikarenakan kekesalan tapi masih sempat mengajak seseorang untuk makan .
Kesimpulan harfia dari Petu Pibha Keta Kepo yaitu orang bermental enak dan tak mau menerima resiko . Sedangkan Atelo’o , Atere’e, Ateria yaitu susa melihat orang senang dan senang melihat orang susa. Sedangkan turutena yaitu orang yang tidak kerja keras tapi ikut
mendapat kebagian sedangkan Auleda Moda orang yang tidak punya pendirian .
.





