Potret Mobil Mogok yang Mengantar Calon Kepala Daerah ke Kursi Singgasana

KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com–  Setiap pemilihan kepala daerah , lima tahun sekali calon gubernur, bupati hingga walikota rajin blusukan ke titik – titik yang banyak dikunjungi oleh warga masyarakat seperti pasar ,Cafe,kegiatan agama,Pelelangan ikan,sosialisasi pertanian dan lain sebagainya.

Calon – calon tersebut terlihat akrab dan murah senyum ketika bertemu dengan warga masyarakat, mereka saling menyapa dan berjabat tangan tanpa ada yang mereka bedakan seperti profesi dan latarbelakang pendidikan, semua diperlakukan sama karena yang mereka butuh adalah suara .

Suara pedagang , suara nelayan ,suara petani, suara buruh bangunan sama dengan suaranya para profesor karena perhitungannya , perorangan yaitu satu orang satu suara maka calon kepala daerah tersebut sangat mengharapkan bantuan dari semua pihak agar dia bisa duduk di kursi singgasana .

Padahal dalam keseharian mereka tidak saling kenal , tidak saling menyapa tapi karena mereka butuh untuk menjadi pemimpin di daerahnya maka mereka tak rasa sungkam untuk meminta bantuan kepada warga masyarakat agar mereka bisa terpilih pada pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan 27 November 2024 .

Itulah potret fenomena yang selalu menghias lima tahun sekali ketika hendak melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung dimana yang tidak kenal diusahakan untuk dikenal yang belum mendukung diusahakan untuk mendukung dengan harapan bisa menang pada kompetisi pilkada yang tinggal hitung hari akan dilaksanakan .

Calon – calon tersebut memiliki gaya dan penampilan antara yang satu dengan yang lain tidak sama begitu juga dengan retorika dalam penyampaian program juga berbeda .
Semua yang mereka lakukan tersebut yakni hanya untuk menarik simpatik warga pemilih dan untuk meyakin warga masyarakat pemilih mereka serius mendengar dan mencatat keluh kesah yang disampaikan oleh warga masyarakat.

Calon – calon tersebut mereka begitu mudah untuk bertemu dengan warga sebelum mereka terpilih tapi ketika sudah terpilih dan dilantik maka warga akan tidak muda lagi bertemu dengan calon yang bersangkutan karena harus lewat jalur protokoler ,inilah yang membedakan sebelum terpilih dan sesudah terpilih.

Fenomena dari calon gubernur , bupati hingga walikota mereka mirip mobil mogok dimana mereka tidak malu – malu meminta dari orang – orang , untuk mendorong mobil mogok itu agar bisa berjalan . Setelah berjalan pemilik mobil mogok tersebut mengucapkan trima kasih atas bantuan .

Begitu juga dengan suksesi calon kepala daerah, setiap calon pasti meminta bantuan kepada warga masyarakat untuk meminta bantuannya , setelah terpilih kadangkala mereka lupa jasa baik warga masyarakat yang pernah membantunya , begitu juga dengan janji – janji yang pernah mereka utarakan mereka lupa untuk ditepati . Itulah calon kepala daerah yang bermental mobil mogok .

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *