klivetvindonesia.com Pontianak – “Pada tanggal 22 September 2024, kita akan kembali mengingat Aksi 212, sebuah gerakan massa yang penuh makna yang pertama kali digelar pada 2 Desember 2016. Gerakan ini, yang lahir dari ketulusan dan kesungguhan umat Islam, merupakan respons terhadap dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gubernur Jakarta saat itu, terhadap pernyataan mengenai Al-Maidah ayat 51.
Aksi 212 memiliki lima tujuan mulia yang patut dicontoh:
1. Menuntut Proses Hukum yang Adil.
2. Memperjuangkan Keadilan yang Sempurna.
3. Menunjukkan Kekuatan Massa sebagai Bentuk Solidaritas.
4. Meningkatkan Kesadaran Publik tentang Pentingnya Menjaga Kehormatan Agama.
5. Menggalang Dukungan Sosial untuk Masyarakat yang Lebih Baik.
Dari aksi ini, banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik. Jika kita merenungkan lebih dalam, kita akan menyadari bahwa Kalimantan Barat adalah sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya manusia dan alam, namun sangat disayangkan jika potensi ini tidak dikelola dengan baik. Kalbar, dengan keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama yang dimilikinya, ibaratnya seperti memiliki ‘Tuan’ namun tanpa ‘Rumah’.
Aksi 212 merupakan gerakan mulia yang seharusnya bebas dari kepentingan politik. Namun, ada segelintir pihak yang berusaha memanfaatkannya demi kepentingan politik pribadi. Kita harus ingat bahwa gerakan ini adalah murni untuk kepentingan bersama, dan tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan politik sempit.
Mari kita jadikan momentum Aksi 212 sebagai cermin dan motivasi untuk terus memperjuangkan keadilan dan memajukan potensi Kalimantan Barat dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab.
“Bayangkan sebuah tanah yang subur, dipenuhi dengan kekayaan alam dan potensi tak terhingga—sebuah wilayah yang seolah dilahirkan untuk meraih kemakmuran dan kebahagiaan. Inilah Kalimantan Barat, sebuah daerah yang memiliki segala sesuatu yang diperlukan untuk berkembang dan berjaya. Namun, meskipun tanah ini dikelilingi oleh kekayaan dan keanekaragaman, masih ada rasa kekosongan yang terasa.
Kalimantan Barat adalah ‘ber-Tuan tapi tak berumah’. Ia memiliki semua elemen yang penting: sumber daya manusia yang cerdas, kekayaan alam yang melimpah, serta budaya dan tradisi yang kaya. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat dan perhatian yang bijaksana, semua potensi ini menjadi tak berarti—seolah memiliki ‘Tuan’ namun tanpa ‘Rumah’.
Kita seolah menyaksikan sebuah rumah megah yang dibangun dengan segala keindahan, namun kosong dan tidak berpenghuni. Tanpa sentuhan tangan yang bijak, tanpa pemimpin yang visioner, semua keindahan dan potensi ini hanya akan menjadi hiasan tanpa arti.
Sekarang, saatnya untuk menyadari bahwa kekayaan dan potensi Kalimantan Barat bukanlah sesuatu yang harus dibiarkan begitu saja. Ini adalah panggilan untuk membangun rumah yang kokoh dan bermakna, sebuah tempat di mana semua kekayaan ini bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Mari kita pastikan bahwa tanah yang kita cintai ini tidak lagi ‘ber-Tuan tapi tak berumah’. Mari kita buktikan bahwa dengan pengelolaan yang bijak dan kepemimpinan yang penuh dedikasi, Kalimantan Barat akan menjadi rumah yang sebenar-benarnya—tempat di mana potensi dan kekayaan alam bersatu untuk menciptakan masa depan yang cerah dan sejahtera bagi semua.”
(Gerak Roda)***





