klivetvindonesia.com., Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang –Dari Aksi yang dilakukan WNA yang mengejar 5 anggota TNI, Dengan mengunakan beberapa jenis senjata, Mengakibatkan banyak nya Kecaman Keras dari tokoh tokoh Masyarakat di antara salah satunya adalah ketua LJK .( Laskar Jagadilaga Ketapang )Peristiwa ini bukan hanya sekadar insiden biasa ,Tetapi juga menjadi tamparan telak bagi Kedaulatan Negara Republik Indonesia.
Di area tambang emas PT Sultan Rafli Mandiri, Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi, langit Ketapang dijadikan arena pengintaian ilegal. Empat TKA asal China menerbangkan drone tanpa izin, seolah wilayah ini tak bertuan dan hukum hanya pajangan.
Ketika satu petugas pengamanan dan lima prajurit TNI Yonzipur 6/SD yang sedang latihan mendekati untuk klarifikasi, logika hukum berhenti total. Sekitar 300 meter dari gerbang perusahaan, sebelas TKA lain muncul membawa senjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum. Bukan untuk bekerja. Untuk menyerang.

Akibatnya, lima prajurit TNI diserang, satu mobil dan satu sepeda motor dirusak. Aparat negara dihajar di tanah sendiri. Ini bukan lagi pelanggaran, ini penghinaan terbuka terhadap negara. Jika kejadian serupa terjadi di luar negeri, para pelaku sudah lama ditahan dan diadili. Di Ketapang, publik dipaksa menelan kata basi: kejadian.
Fakta membuat pembelaan apa pun runtuh. 16 Desember 2025, terdapat 364 TKA asal China bekerja di Kabupaten Ketapang. Inspeksi mendadak Kementerian Ketenagakerjaan di kawasan industri Pagar Mentimun membongkar borok besar: ratusan TKA menggunakan visa kunjungan C19 dan C20, bukan visa kerja. Tanpa RPTKA. Tanpa dasar hukum. Tanpa rasa takut. Salah satu perusahaan, PT Shandong Zhengtai Construction Indonesia, diduga mempekerjakan sedikitnya 202 TKA ilegal.
Lebih tragis, semua ini terjadi setelah kematian seorang TKA, Wang Abao, akibat kecelakaan kerja—dan ia juga bekerja tanpa RPTKA. Satu nyawa hilang, ratusan pelanggaran terbuka, namun sistem tetap diam. Negara hadir hanya sebagai penonton. Daniel, Ketua Laskar Jagadilaga Ketapang (LJK), melontarkan kecaman paling keras.
“Ini memalukan. Sangat memalukan. Bagaimana mungkin ratusan TKA masuk dan bekerja bebas tanpa izin lengkap? Apakah Pemkab Ketapang tidak tahu, atau sengaja menutup mata?” tegas Daniel.Ia juga menuding kegagalan total pengawasan.
“Imigrasi ke mana? Instansi terkait ke mana? Jangan sampai Ketapang berubah jadi wilayah abu-abu, tempat hukum bisa diinjak-injak oleh kepentingan modal. Pemerintah Ketapang wajib bertindak sekarang, bukan besok. Jika dibiarkan, yang hancur bukan hanya lingkungan, tapi harga diri daerah dan negara,” katanya.
Peristiwa ini adalah alarm darurat. Ketika TKA ilegal berani membawa senjata, menyerang TNI, dan menerbangkan drone tanpa izin, itu tanda negara sedang dilecehkan di rumahnya sendiri. Jika aparat dan pemerintah tetap lunak, maka yang ditambang bukan cuma emas —tetapi kedaulatan Indonesia. Penulis Rusli.
Team media kltv Indonesia





