GURU/PEGAWAI: PILAR BANGSA YANG TERABAIKAN – REFLEKSI KERAS UNTUK NEGARA dan LEMBAGA SWASTA ATAS KRISIS KESEJAHTERAAN PENDIDIK

 

Oleh
Petrus Salu, SVD

KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com

 

Sebuah Ulasan Refleksi:
Guru/Pegawai, Kesejahteraan, dan Masa Depan Bangsa: Sudahkah Kita Peduli????

Sejarah telah membuktikan betapa strategisnya posisi guru dalam membangun dan menyelamatkan sebuah bangsa. Kisah Kaisar Jepang pasca Perang Dunia II adalah pelajaran yang sangat berharga: di tengah kehancuran total, yang pertama kali dicari bukanlah harta yang diluluh-lantahkan, bukan berapa ributentara yg mati, atau bukan infrastruktur yang dihancurkan, melainkan *Berapa jumlah guru yang masih hidup??* Dari sinilah Jepang bangkit melalui pendidikan, dan hari ini dunia mengakui kemajuan negeri sakura itu yang sangat modern.

Namun, ironisnya, di banyak negara, termasuk negeri kita sendiri, *nasib guru—terutama guru swasta—seringkali masih berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.*

*Fakta di lapangan menunjukkan bahwa guru, yang seharusnya menjadi aset utama negara, justru banyak yang hidup dalam tekanan ekonomi. Banyak guru terpaksa menggadaikan SK mereka di bank atau koperasi hanya untuk menyambung hidup. Tidak sedikit pula yang terlibat hutang, baik offline maupun online, hingga setiap bulan gaji mereka sudah terkuras sebelum menyentuh kebutuhan keluarga. Sebagian lain terpaksa mencari penghasilan tambahan, dari berjualan online, bertani, beternak, hingga menjadi pekerja serabutan, padahal tenaga dan pikiran mereka seharusnya difokuskan untuk mendidik generasi penerus bangsa!!*

*Kapan penyakit jahanam lusifer ini terobati??????*

*Tak berhenti di situ, beban sosial dan moral pun terus menekan—menjadi tumpuan masyarakat di setiap acara, memenuhi kewajiban agama, hingga menghadapi tuntutan pajak dan biaya hidup yang terus meningkat. Semua ini dijalani dengan gaji yang jauh dari cukup, bahkan seringkali tidak memadai untuk biaya pendidikan anak sendiri. Dalam keadaan seperti ini, sulit berharap seorang guru bisa sepenuhnya fokus dan kreatif dalam mengajar. Kualitas sekolah dan siswa pun ikut menjadi korban!!*

*Kapan stres berkepanjangan dan kemunafikan biadab ini tersingkir????*

*Namun, di tengah segala keterbatasan dan tekanan ini, para guru tetap berdiri teguh!! Mereka tetap hadir di kelas, berjuang untuk menanamkan nilai, ilmu, iman dan karakter kepada murid-muridnya. Ini adalah bentuk pengabdian luar biasa yang tidak ternilai dengan materi apapun. Namun, jika kondisi ini terus dibiarkan, bangsa mana pun dan bangsa ini sedang menyiapkan kehancuran peradabannya sendiri secara perlahan!!!!*

*Sudah saatnya pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta lembaga-lembaga swasta yang menyelenggarakan pendidikan, membangunkan nurani dan mengambil langkah konkret. Kesejahteraan guru bukan sekadar soal gaji, tapi juga penghargaan, perlindungan sosial, kepastian hukum, dan ruang tumbuh untuk berkembang. Guru perlu diberi jaminan hidup yang layak agar mereka dapat mengabdikan diri sepenuhnya pada tugas mulia ini. Tidak layak seorang guru masih harus dihantui rasa cemas setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.*

*Pemerintah harus hadir dengan kebijakan afirmatif: memperbaiki sistem penggajian, memberi subsidi pendidikan untuk anak guru, menyediakan fasilitas kredit tanpa bunga, serta memudahkan akses perumahan dan kesehatan. Lembaga swasta pun wajib memandang guru bukan sekadar tenaga kerja murah, tapi sebagai investasi utama untuk kualitas sekolah dan anak didik mereka. Pengelola sekolah swasta harus berhenti menekan guru dengan tuntutan tak masuk akal tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka!!!!*

*Kita harus ingat, mutu pendidikan tidak akan pernah melampaui mutu guru. Jika guru hidup dalam tekanan, stres, dan kekurangan, jangan berharap sekolah akan menjadi “kebun masa depan” yang subur bagi anak-anak bangsa. Sebaliknya, jika guru sejahtera, mereka akan menjadikan kelas sebagai taman inspirasi dan pertumbuhan, menanam benih-benih pengetahuan, karakter, dan cita-cita mulia di hati murid-muridnya.*

*Inilah saatnya negara dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan melakukan revolusi mental dalam memandang dan memperlakukan guru. Jangan sampai bangsa ini menyesal di kemudian hari, ketika generasi mudanya kehilangan arah hanya karena kita abai pada kesejahteraan para pendidik!!!!*

*Bangunlah penghargaan, ciptakan kesejahteraan, dan berikan ruang tumbuh bagi guru—karena di tangan merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan!!*

Flash back pengalamanku selama 20 tahun menjadi kepala sekolah, isinkan saya memberikan *Motivasi untuk Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat:*

1. *Guru bukan sekadar profesi, melainkan pondasi kemajuan bangsa.*

2. *Kesejahteraan guru adalah investasi langsung pada kualitas manusia Indonesia.*

3. *Mengabaikan kesejahteraan guru berarti membangun bangsa di atas fondasi yang rapuh.*

4. *Kepala sekolah tidak cukup hanya tegas dalam menegakkan aturan kurikulum dan disiplin; mereka juga harus peka dan peduli terhadap “perut” para guru, memastikan kebutuhan dasar dan kesejahteraan rekan-rekan pendidik tercukupi.*

5. *Kepala sekolah adalah pemimpin yang harus menciptakan iklim kerja penuh empati versus feodal dan sukuis, saling mendukung, dan memperjuangkan hak-hak guru di hadapan yayasan maupun pemerintah.*

6. *Guru yang dihargai, didukung, dan sejahtera akan mengajar dengan hati dan sepenuh jiwa, membuat ruang kelas menjadi “kebun masa depan” tempat tumbuhnya generasi emas bangsa Indonesia.*

7. *Sudah waktunya semua pihak—pemerintah, lembaga swasta, kepala sekolah, dan masyarakat—bersatu memperjuangkan martabat dan kesejahteraan guru, demi masa depan bangsa yang lebih cerah.*

*Ingatlah, negara yang besar adalah negara yang MEMULIAKAN GURU!! Jika kita ingin memetik buah peradaban yang unggul, mulailah dari menyejahterakan PARA PENANAM BENIHNYA !!*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *