Maros, Sulawesi Selatan – Suasana haru dan penuh kekhusyukan menyelimuti Zawiyah Khalwatiyah Sammaniyah Yayasan Al Khidir di Maros hari ini. Puluhan murid Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul untuk memulai Suluk Tahunan yang secara resmi dibuka Kamis (20/11/2025).
Kegiatan ini akan berlangsung intensif selama tiga hari penuh, hingga 23 November 2025.

Suluk (pengasingan diri untuk pelatihan spiritual) tahun ini dipimpin langsung oleh Mursyid Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, Syeikh Irsan bin Abdul Rauf Al Makkasariy. Kehadiran Syeikh Irsan dinantikan sebagai pemberi bimbingan utama yang akan memandu para salik melalui tahapan-tahapan penyucian jiwa.
Pembukaan Suluk menjadi momen silaturahmi akbar. Panitia mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah peserta, terutama mereka yang datang dari luar Sulawesi.
Beberapa perwakilan Khalifah dan murid dari berbagai Zawiyah di wilayah dalam dan luar Sulawesi, antara lain: Zawaiyah Dg Ramang (Makassar) , Zawiyah Gowa, Zawiyah Palu (Sulawesi Tengah), Zawiyah Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Zawiyah (Aceh).
Kegiatan itu juga dihadiri oleh Syeikh Muhammad Rusmin Al-Fajr Zawiyah Al-Ma’wa Tanwirul Qulub Tarekat Naqsyabandi Haqqani, Sidenreng Rappang (Sidrap).
“Suluk adalah janji kesetiaan kami kepada Allah dan kepada Mursyid. Walaupun harus menempuh perjalanan jauh, kami datang dengan niat mencari bekal rohani,” ujar Nurfajri Saputra dari Zawiyah Sumbawa.
Acara pembukaan semakin berbobot dengan kehadiran tokoh Nahdlatul Ulama, Dr. KH. Mahmud Suyuti, yang juga menjabat sebagai Pengurus JATMAN NU Sulawesi Selatan. Dalam tausiahnya, beliau secara khusus membahas esensi Ketarekahan dalam bingkai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Dr. KH. Mahmud Suyuti menekankan bahwa tarekat adalah metode yang teruji secara historis untuk mencapai kesempurnaan akhlak (ihsan) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Beliau juga memuji peran Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah dalam menjaga tradisi keilmuan tasawuf.
“Tarekat bukanlah hal baru, melainkan jalan yang telah dilalui oleh para ulama salaf. Di zaman yang penuh cobaan dan materialisme ini, Suluk menjadi benteng spiritual, tempat kita kembali menyadari hakikat diri sebagai hamba Allah. Saya berharap para murid dapat memanfaatkan waktu empat hari ini seefektif mungkin untuk membersihkan hati dan menguatkan zikir,” pesan Dr. KH. Mahmud Suyuti.
Setelah rangkaian sambutan dan tausiah, Syeikh Irsan Al Makkasary memimpin pembacaan niat bersama, menandai resminya dimulainya masa Suluk. Para peserta kemudian langsung memasuki Zawiyah, meninggalkan urusan duniawi mereka untuk fokus pada ibadah.
Dalam bimbingan awalnya, Syeikh Irsan mengingatkan para peserta: “Waktu empat hari ini adalah anugerah. Kosongkan hati kalian dari segala selain Allah. Patuhi disiplin suluk, tegakkan shalat, dan teruslah berzikir. Inilah saatnya ruh kita mendapatkan nutrisi terbaik.”
Selama Suluk, para murid akan menjalani amalan qiyamullail (shalat malam), dan rangkaian wirid serta zikir tertentu yang diijazahkan oleh Mursyid, seluruhnya bertujuan untuk mencapai fana’ (meleburkan diri) dalam kecintaan kepada Allah SWT.
Kegiatan Suluk Tahunan ini tidak hanya menjadi rutinitas tarekat, tetapi juga menjadi barometer kekuatan spiritualitas masyarakat Islam di Maros dan sekitarnya. (*)





