Asmat, KLTV Indonesia – Ketegangan mewarnai Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, setelah terjadi insiden antara Satuan Tugas (Satgas) Rajawali Yonif 123 dengan sejumlah warga pada Minggu, 28 September 2025. Informasi yang dihimpun menyebutkan, insiden bermula dari kericuhan yang melibatkan warga dalam kondisi mabuk hingga berujung pada aksi penembakan dan pembakaran pos satgas.
Menurut laporan lapangan yang diterima KLTV Indonesia, satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat terkena tembakan, sementara seorang lainnya mengalami luka di bagian paha. Peristiwa tersebut memicu kemarahan massa, sehingga berujung pada pembakaran Pos Satgas Rajawali Yonif 123 yang berada di Distrik Agats.
Situasi yang semula tegang segera meningkat menjadi status siaga satu. Aparat keamanan di wilayah setempat langsung memperketat pengawasan untuk mengantisipasi meluasnya aksi balasan maupun kericuhan lanjutan. “Saat ini kondisi di Kota Agats masih dalam keadaan siaga penuh. Aparat terus berupaya menenangkan warga agar tidak terjadi eskalasi,” ungkap sumber keamanan setempat.
Peristiwa ini kembali membuka diskusi tentang pentingnya pendekatan persuasif dan humanis dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua, yang dikenal dengan dinamika sosialnya yang kompleks. Pakar keamanan menilai, upaya komunikasi intensif dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemuda setempat menjadi kunci agar insiden serupa tidak berulang.
Sejumlah tokoh masyarakat Asmat menyerukan agar semua pihak menahan diri. Mereka mengingatkan bahwa kekerasan hanya akan memperlebar jurang perbedaan dan memicu siklus konflik baru. “Kami berharap ada penyelesaian yang damai, karena keamanan adalah kebutuhan bersama, bukan hanya aparat atau warga,” ujar salah seorang tokoh adat.
Di sisi lain, pihak pemerintah daerah juga diharapkan segera turun tangan, membangun jembatan komunikasi antara aparat dan warga, serta memastikan penegakan hukum berjalan secara adil dan transparan. Langkah ini penting agar kepercayaan masyarakat terhadap aparat tetap terjaga.
Peristiwa di Agats menjadi pengingat betapa rapuhnya situasi keamanan jika tidak diiringi dengan pendekatan yang mengedepankan dialog. Kasus ini juga menegaskan perlunya program pembinaan masyarakat, terutama terkait penyalahgunaan minuman keras yang kerap menjadi pemicu kericuhan.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Distrik Agats masih dipantau ketat. Aparat keamanan berjaga penuh, sementara warga memilih berhati-hati dan sebagian tetap berkumpul di sekitar lokasi kejadian. Situasi diharapkan segera kondusif melalui kerja sama semua pihak.








