Makassar –KLTV INDONESIA .COM Aksi unjuk rasa ribuan massa di Gedung DPRD Kota Makassar pada Jumat, 29 Agustus 2025, berubah menjadi tragedi mencekam. Amarah yang tak terkendali membuat sejumlah fasilitas dibakar, termasuk gedung DPRD dan beberapa kendaraan yang terparkir di halaman kantor wakil rakyat tersebut.
Suasana yang awalnya hanya diwarnai teriakan tuntutan, tiba-tiba menyala ketika massa melampiaskan kekecewaan atas sikap pemerintah setempat yang dinilai tidak memberikan solusi. Api cepat menjalar, asap tebal mengepul, membuat situasi semakin tak terkendali.
Aksi anarkis itu tak hanya menimbulkan kerugian material besar, tetapi juga menyisakan duka mendalam. Tercatat tiga orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka serius. Para korban berasal dari kalangan pegawai DPRD, staf, hingga masyarakat umum yang berada di lokasi.
Korban meninggal di antaranya Saiful Akbar (43), Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, yang sempat dibawa ke RS Grestelina namun nyawanya tak tertolong. Selain itu, Sarinawati, staf DPRD, meninggal di tempat kejadian perkara dan dievakuasi ke RS Bhayangkara. Satu korban lainnya, Akbar Basri (27), staf Humas DPRD, juga tewas di lokasi dan dibawa ke rumah sakit yang sama.
Sementara korban luka-luka yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Makassar antara lain Agus, anggota Satpol PP dengan luka robek di kaki, Sahabuddin, ajudan Wakil Ketua DPRD mengalami patah tulang pinggul, dan Arief, sopir pejabat DPRD, cedera pada kaki. Selain itu, Herianto, petugas cleaning service DPRD, mengalami cedera berat di dada dan kepala.
Data korban lainnya, Agung yang kini dirawat di RS Hermina mengalami trauma berat hingga paraplegia, serta Satria Pratama yang dirawat di RSI Faisal akibat luka robek pada mata kaki kiri. Di RS Primaya, Budi H.S terdiagnosis trauma kapasitas berat dengan kondisi kritis.
Aparat kepolisian bersama TNI langsung turun tangan untuk meredam situasi. Upaya pemadaman api dilakukan dengan bantuan mobil pemadam kebakaran, namun kobaran api sempat membesar sebelum berhasil dikendalikan. Hingga malam hari, aparat masih berjaga ketat di sekitar kompleks DPRD Makassar.
Kepolisian menyebut kericuhan ini diduga dipicu oleh ketidakpuasan massa terhadap beberapa kebijakan dari DPR . Namun, Kapolrestabes Makassar menegaskan pihaknya masih melakukan penyelidikan mendalam, termasuk mengidentifikasi aktor-aktor yang diduga memprovokasi aksi anarkis tersebut.
Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi institusi DPRD maupun keluarga korban. Selain kehilangan nyawa, kerugian material akibat kebakaran gedung DPRD diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Pemerintah Kota Makassar bersama aparat keamanan berjanji akan segera mengambil langkah tegas untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.






