MAKASSAR – KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com-– Puluhan massa aksi dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar unjuk rasa (Unras) di depan Kantor Gubernur Sulsel, Jl. Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakukkang, Kota Makassar, Kamis (28/8/2025). Aksi ini dipimpin oleh Gayus selaku Jenderal Lapangan (Jendlap) dan diikuti sekitar 30 orang anggota SPN.
Dalam aksinya, massa menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan permasalahan hubungan industrial dan seruan aksi nasional. Mobil pick up berplat DD 8982 AN dijadikan panggung orasi, dengan para peserta aksi bergantian menyampaikan aspirasinya.
Adapun sejumlah tuntutan utama yang mereka gaungkan di antaranya adalah penghapusan sistem kerja outsourcing, penolakan upah murah, dan desakan agar Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026 dinaikkan sebesar 8,5% hingga 10,5% ditambah Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) 0,5% hingga 5%. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak serta membentuk Satgas PHK.
Selain itu, SPN Sulsel menuntut reformasi kebijakan perpajakan dengan menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp 7,5 juta per bulan serta menghapus pajak pesangon. Mereka juga menyoroti diskriminasi pajak bagi perempuan menikah yang dinilai merugikan kaum pekerja perempuan.
Dalam bidang legislasi, massa mendesak agar RUU Ketenagakerjaan segera disahkan tanpa skema Omnibuslaw. Mereka juga menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset untuk memperkuat pemberantasan korupsi, revisi RUU Pemilu, serta redesain sistem pemilu 2029 agar lebih demokratis dan berpihak pada rakyat.
Tak hanya itu, SPN Sulsel juga menekankan pentingnya penegakan hukum ketenagakerjaan. Mereka menuntut agar pengawas ketenagakerjaan di tingkat provinsi lebih tegas menjalankan tugasnya, sekaligus menyatakan mosi tidak percaya terhadap Polda Sulsel dalam penegakan hukum ketenagakerjaan.
Dalam pantauan media, sejumlah aparat keamanan tampak hadir mengawal jalannya aksi. personel PAM dari Bhabinkamtibmas Serta Babinsa Koramil 10 Panakkukang juga ikut menurunkan personelnya untuk memastikan jalannya unjuk rasa tetap kondusif. Kehadiran aparat gabungan ini membuat aksi berjalan aman tanpa gangguan.
Aksi yang dimulai pukul 13.33 Wita ini berlangsung tertib. Sekitar pukul 15.10 Wita, massa aksi menghentikan kegiatan untuk melaksanakan istirahat, salat, dan makan (isoma). Setelah itu, orasi kembali dilanjutkan hingga pukul 16.05 Wita.
Menariknya, meski membawa tuntutan keras, aksi SPN Sulsel ini berakhir dengan damai. Massa membubarkan diri dengan tertib dan Aman. Kehadiran mereka diharapkan mampu membuka mata pemerintah terhadap kondisi nyata yang dialami pekerja, serta mendorong adanya kebijakan yang lebih adil bagi buruh di Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.






