MALLUSETASI-KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.com, Mallusetasi, – Tugu Pahlawan yang berdiri di Dusun Barantang, Desa Manuba, Kecamatan Mallusetasi, bukan sekadar monumen biasa.
Ia menjadi saksi bisu dari tragedi kelam masa penjajahan Belanda, khususnya pembantaian yang dilakukan pasukan elite Depote Speciale Troepen (DST) pimpinan Raymond Paul Pierre Westerling pada periode Desember 1946 hingga Februari 1947.
Penelusuran sejarah ini dituliskan oleh Dr. Muhammad Fadli, seorang penyuluh agama Islam di KUA Mallusetasi yang juga putra daerah asal Palanro. Ia berupaya menggali kembali jejak perjuangan para pahlawan lokal agar generasi muda Mallusetasi tidak kehilangan memori kolektif tentang tanah kelahirannya yang sarat kisah kepahlawanan.
Fadli menuturkan, pada tahun 2017 ia sempat mewawancarai beberapa tokoh masyarakat dan saksi sejarah, di antaranya almarhum Puang Tajuddin (mantan Kepala Dusun Barantang) dan almarhum H. Puang Syukurdin, saksi hidup yang kala itu berusia hampir 90 tahun. Dari merekalah terungkap kisah tragis yang melatarbelakangi berdirinya Tugu Pahlawan di Barantang.
Menurut catatan sejarah, Dusun Barantang pernah menjadi pusat perlawanan pejuang Mallusetasi. Salah satu tokoh penting adalah Andi Syamsul Alam, atau dikenal dengan sebutan Petta Bau, komandan pejuang Mallusetasi yang gigih melawan penjajahan.
Bersama rekannya, Puang Jalali, mereka menolak ajakan Belanda untuk bersekutu meski ditawari berbagai iming-iming. Penolakan itu membuat Belanda geram, terlebih ketika pasukan Petta Bau berhasil menewaskan beberapa tentara Belanda.
Kemarahan Belanda berujung pada pembantaian besar-besaran.
Sejumlah warga, termasuk La Wadjie (Kepala Dusun Barantang 1945), ayah dari H. Puang Syukurdin, ditangkap dan dieksekusi. Para tawanan dari berbagai kampung digiring ke Barantang dan ditembak mati karena dianggap menyembunyikan informasi mengenai keberadaan para pejuang.
Puang Tajuddin yang saat itu masih berusia lima tahun mengisahkan bagaimana ratusan warga dibunuh dan dikubur dalam satu lubang besar yang sudah dipersiapkan Belanda. “Itulah yang menjadikan Barantang sebagai titik sejarah kelam, tempat tumpah darah para syuhada pejuang kemerdekaan,” tuturnya.
Kini, Tugu Pahlawan Barantang masih berdiri kokoh di pinggir jalan poros Barantang, tepat di samping bekas rumah Puang Tajuddin. Monumen sederhana itu menjadi pengingat bahwa di tanah Mallusetasi pernah tumpah darah para pejuang yang menolak tunduk kepada penjajahan.
“Sejarah ini harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda. Tugu Pahlawan Barantang bukan hanya batu nisan bagi mereka yang gugur, melainkan simbol keberanian dan harga diri masyarakat Mallusetasi dalam mempertahankan kemerdekaan,” pungkas Fadli.