MAROS – KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Maros ke-66 berlangsung megah dan penuh khidmat. Rangkaian kegiatan bertajuk Gau Maraja Leang-Leang 2025 resmi dibuka Bupati MarosB. H.A.S. CHAIDIR SYAM, S.IP., M.H. yang di hadiri Menteri Kebudayaan,Fadli zon menjadi momentum kebudayaan yang menyatukan warisan sejarah, semangat generasi muda, serta perhatian nasional terhadap kekayaan tradisi lokal.
Acara ini diramaikan dengan konferensi internasional, pameran benda pusaka, kirab budaya, dan tarian kolosal yang melibatkan lebih dari 300 pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA se-Kabupaten Maros. Masyarakat tumpah ruah menyaksikan sajian budaya yang disusun secara spektakuler dan sarat makna.

Salah satu sorotan utama adalah Pameran Benda Pusaka bertajuk Singkerru Parewa, yang menghadirkan pusaka-pusaka bersejarah milik tokoh-tokoh nasional, termasuk Pusaka Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dan Pusaka Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon. Selain itu, berbagai pusaka Maros dan koleksi dari sejumlah Lembaga Pusaka serta pemerhati budaya turut memperkuat daya tarik pameran.

Dalam kegiatan ini, Lembaga Badik Celebes Indonesia (LBCI) turut menjadi peserta aktif, memamerkan koleksi pusaka khas Sulawesi Selatan, termasuk badik dengan nilai filosofis tinggi.
Ahmad Hatta, selaku panitia pelaksana sekaligus Ketua Umum Lembaga Badik Celebes Indonesia, menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan semua pihak.
“Partisipasi kami di Gau Maraja Leang-Leang adalah bentuk komitmen untuk menjaga dan mempromosikan pusaka sebagai warisan budaya yang harus dihormati dan dikenalkan kepada generasi muda. Kami bangga dapat menghadirkan pusaka orang nomor satu di negeri ini, yaitu Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Ahmad Hatta.
Salah satu momen paling menggugah adalah tarian kolosal yang dipersembahkan ratusan pelajar, membawakan koreografi yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal dengan latar musik tradisional. Penampilan tersebut tidak hanya menggambarkan harmoni budaya, tetapi juga semangat kebersamaan antar generasi.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup secara sakral melalui ritual Mattompang Bersama yang dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Maros. Tradisi penyucian ini menjadi simbol doa bersama untuk keberkahan dan kemajuan Maros di masa mendatang.
Acara akbar ini menjadi bukti nyata bahwa Maros bukan sekadar daerah wisata prasejarah, tetapi juga episentrum budaya yang terus hidup dan berkembang. Pemerintah Daerah berharap, momentum ini menjadi warisan semangat yang abadi.
Tim Redaksi KLTV Indonesia











