MAKASSAR –KLTV INDONESIA .COM Rencana relokasi pedagang kaki lima (PK5) di sepanjang Jalan Veteran Utara, Kota Makassar, memicu gelombang penolakan besar-besaran dari para pedagang. Ribuan pedagang tumpah ruah ke lokasi pada Selasa dini hari, 1 Juli 2025 pukul 01.00 WITA, saat dinas terkait hadir untuk memantau dan melakukan langkah awal relokasi.
Sejak pukul 01.00, terlihat kehadiran petugas dari PD Pasar, Satpol PP, pihak Kecamatan Bontoala, Lurah Bontoala, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta aparat dari Polsek Bontoala. Mereka meninjau langsung lokasi yang selama ini menjadi sentra aktivitas ekonomi para pedagang kecil.
Namun kehadiran aparat ini disambut dengan ketegasan dari para pedagang yang menolak relokasi ke Terminal Malengkeri. Spanduk besar terbentang di lokasi bertuliskan:
> “PENGUMUMAN TEGAS!!!
KAMI SELURUH PEDAGANG JALAN VETERAN UTARA
BERSATU & MENOLAK KERAS RELOKASI KE TERMINAL MALENGKERI
TIDAK ADA KEADILAN UNTUK PEDAGANG KECIL
KEPUTUSAN SEPIHAK TANPA MUSYAWARAH!!
RELOKASI = MATI PELANGGAN & MATI PENGHASILAN KAMI!”
Dalam mediasi yang berlangsung sebelumnya, Ismail Tojeng, salah satu tokoh pedagang menyampaikan bahwa relokasi ditunda sementara, namun dengan beberapa catatan. “Kesepakatan awalnya adalah tidak ada aktivitas bongkar muat setelah pukul 06.00 pagi. Pedagang diminta menjaga kebersihan, ketertiban, dan tidak buang air sembarangan di sekitar ruko. Kalau tidak mau ditertibkan, tertibkan diri sendiri dulu,” tegasnya.
Menurutnya, konflik ini muncul karena warga pemilik rumah dan ruko merasa terganggu oleh aktivitas para pedagang. Namun, solusi relokasi ke Terminal Malengkeri dianggap terlalu tergesa-gesa dan tidak melibatkan musyawarah menyeluruh.
Sementara itu, Elber Maqbul Amin, Plt Direktur Terminal Malengkeri menjelaskan bahwa pihaknya hanya menyediakan lahan sebagai alternatif tempat relokasi. “Kami hanya menyiapkan tempat. Yang ingin ditertibkan adalah fungsi jalan, bukan semata-mata pedagang. Tapi kami akui, sosialisasinya belum maksimal, tidak ada pemberitahuan 30 hari sebelumnya,” ujarnya.
Para pedagang berargumen bahwa lokasi baru tidak cocok karena jauh dari pelanggan tetap mereka. “Kalau pelanggan kami biasa belanja dua kantong saja, masa harus ke terminal? Ini bukan solusi, ini mematikan rejeki,” ujar salah satu perwakilan PK5 lainnya.
Sampai berita ini diturunkan, suasana di lokasi masih kondusif, meski para pedagang tetap bersiaga dan menolak rencana pemindahan. Pemerintah berjanji akan mengadakan sosialisasi lanjutan dalam dua hingga tiga hari ke depan untuk mencari titik temu.
“Kami tidak anarkis, kami taat aturan. Tapi jangan ambil sepihak. Kami siap diatur, tapi bukan direlokasi,” tegas Ismail Tojeng.








