Punggawa Adventure Takalar Taklukkan Puncak Rinjani, Bawa Anak 3 Tahun dalam Pendakian Ekstrem

 

LOMBOK – KLTV INDONESIA –-klivetvindonesia.com– Perjalanan penuh perjuangan dan keberanian ditempuh oleh Punggawa Adventure Team, kelompok pendaki asal Takalar, Sulawesi Selatan, yang sukses mencapai Puncak Gunung Rinjani 3.726 MDPL, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pendakian ini berlangsung pada 16–22 Juni 2025, dan yang paling mengejutkan, anggota termuda berusia hanya 15 bulan.

 

 

Tim berjumlah 14 orang, terdiri dari berbagai latar belakang usia, mulai dari dewasa, remaja, hingga anak-anak. Berikut daftar lengkap para pendaki yang turut serta:

1. Andi Try Andrian (40) – Ketua Tim

2. Haslianti Nur Fatima (39)

3. Andi Muh. Dzaki (17) – Siswa SMAN 3 Takalar

4. Andi Muh. Fahri (12) – Siswa SDN 5 Ballo kelas 6

5. Andi Muh. Fadhil (10) – Siswa SDN 5 Ballo kelas 4

6. Andi Muh. Khalid (3)

7. Andi Muh. Arung (15 bulan)

8. Rizal Joko (19)

9. Wahyu (22)

10. Rendi (21)

11. Junaidi (32)

12. Firman (19)

13. Adhe (23) – Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia

14. Rendi (24)

 

 

Rombongan memulai perjalanan dari Takalar pada 16 Juni, menyeberang dari Pelabuhan Makassar, lalu melanjutkan perjalanan laut selama dua hari. Setelah tiba di Lombok pada 18 Juni, tim menuju basecamp di Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani.

Tanggal 19 Juni diisi dengan registrasi, pemeriksaan kesehatan, dan pelaporan ke Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, karena pendakian ke Rinjani dibatasi kuota harian. Tim ini sudah mendaftar dua minggu sebelumnya dan mendapatkan slot resmi untuk 14 pendaki.

 

Pendakian Dimulai: Tanjakan Penyesalan dan Ujian Fisik ,Pada 20 Juni, tim mulai mendaki via Jalur Bukit Tiga. Setelah 2 jam perjalanan mereka tiba di Pos 1, lalu lanjut ke Pos 2 dan Pos 3. Kondisi cuaca mulai berubah — kabut tebal dan suhu dingin mulai menyergap. Trek menuju Pos 4, yang terkenal ekstrem dan disebut sebagai “Tanjakan Penyesalan”, menjadi tantangan berat. Waktu tempuh normal 3 jam menjadi 5 jam karena kelelahan anggota dan anak-anak dalam tim.

Menjelang maghrib, tim memutuskan berkemah di punggungan karena cuaca semakin buruk. Malam itu digunakan untuk istirahat dan memulihkan tenaga.

Menuju Puncak: Badai, Anak Kecil, dan Rasa Tak Menyerah,
Tanggal 21 Juni pukul 04.00 WITA, tim melanjutkan perjalanan menuju puncak. Rintangan belum berhenti — mereka dihadang badai di tengah jalan dan harus membuat shelter darurat untuk berlindung. Dengan semangat pantang menyerah, mereka kembali melanjutkan perjalanan usai badai mereda.

Tak disangka, dua anak kecil berhasil bertahan dalam pendakian berat ini selama 12 jam. Di ketinggian, kondisi semakin sulit: pasir licin dan batu terjal membuat pendaki harus ekstra hati-hati. Setiap langkah yang naik bisa tergelincir turun 1 meter. Pendaki menggunakan tali (webbing) untuk saling menarik dan memastikan pijakan aman.

> “Langkah demi langkah, satu ditarik, satu didorong. Saya pastikan yang saya pijak kokoh, karena anak-anak kami ada di belakang,” ujar Andi Try Andrian, ketua tim, mengenang momen mendebarkan itu.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang dan menguras energi, tim berhasil menjejak Puncak Dewi Anjani, puncak tertinggi Gunung Rinjani. Tangis haru dan rasa syukur pun mewarnai momen ini.

 

Menurutnya, selama pendakian, tim Kang Andi menyebut bertemu 3 personel SAR yang terlihat di Pos .

Hal ini menjadi Perhatian, mengingat keselamatan pendaki adalah tanggung jawab bersama, apalagi jika melibatkan anak-anak.

 

Pendakian Punggawa Adventure Team ke Rinjani bukan hanya soal mencapai puncak. Tapi juga tentang ketahanan fisik, kebersamaan, kesiapan logistik, dan pengelolaan risiko, terutama ketika membawa anggota usia dini. Meskipun tim ini terbilang “berani”, mereka membuktikan bahwa perencanaan matang dan kekompakan adalah kunci keberhasilan.

> “Kami bawa anak-anak bukan untuk pamer, tapi menunjukkan bahwa alam bisa jadi ruang pendidikan karakter dan keberanian, selama dipersiapkan dengan matang,” ujar Haslianti, ibu dari dua anak dalam tim.

 

Keberhasilan ini menjadi catatan penting dunia petualangan Indonesia, sekaligus membuka diskusi tentang regulasi pendakian dengan anak di bawah umur, serta kesiapan aparat dan fasilitas penunjang di kawasan wisata alam ekstrim seperti Rinjani.

*Penulis: Ikbal SH
Jurnalis Sulsel – KLTV Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *