Oleh: ANGGA ALJAELANI PAKKALEWANGNGE
Setiap pemilu ada harapan dan setiap suara yang diberikan, ada doa dan harapan untuk perubahan, kesejahteraan, yang berpihak pada rakyat. Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan ketika pemimpin yang terpilih tak mampu—atau ” tak mau—menepati janji yang pernah, ia utarakan itu .
Fenomena Janji politik sepertinya menguap usai pemilihan . Dari program gratis hingga pembangunan megah, hanya sebuah janji besar yang akhirnya hanya tinggal wacana. Hal Ini menimbulkan persepsi masyarakat yang berbeda akan hal itu atas belum terealisasinya ,maka semuanya itu mendapat penilaian yang berkaitan dengan integritas dan kepercayaan publik , dimana perkataan dan perbuatan tidak seiring dan sejalan , yang membuat krisis kepercayaan.
Maka layak kalau Rakyat merasa kecewa. Mereka memilih merujuk pada visi dan janji yang dipaparkan,dengan harap pemimpin adalah representasi suara mereka. Namun , kenyataan belum demikian karena janji tinggal janji yang sepertinya tak ditepati, maka layak kalau rakyat merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya mewakili mereka.
Menyadari akan hal itu tak selamanya kesalahan sepenuhnya ada pada pemimpin. Karena sebagai pemilih, kita juga punya tanggung jawab untuk lebih kritis, tidak terbuai janji, dan memastikan calon pemimpin mana yang memiliki rekam jejak yang dapat dipercaya. Oleh karena itu Demokrasi bukan hanya soal memilih, tapi mengawasi dan mengevaluasi juga bagian dari demokrasi yang harus kita jalani .
Oleh karena itu sebagai pemilih kini saatnya rakyat bangkit sebagai pemilih yang cerdas. Jangan biarkan satu kesalahan memilih menjadi kebiasaan lima tahunan. Karena satu pemimpin yang salah bisa menghambat kemajuan, tapi satu pilihan yang tepat dapat membawa masa depan yang lebih cerah.
Maka dengan ini dapat kita simpulkan Jika berjanji A yah ..!! mesti kinerja sesuai yang kita ucap A bukan di manipulasi Politik menjadi ABC yang mengakibatkan masyarakat kebingungan .





