Generasi Emas Terancam Perang Candu? LAN Sintang Ajak Pelajar Lawan Narkoba

Klivetvindonesia.com,Sintang,Kalbar -Dampak buruk narkoba menjadi persoalan yang patut mendapat perhatian karena telah
merusak kehidupan masyarakat dan mengancam generasi muda. Apalagi dalam salah satu misi Presiden
Prabowo dalam program ASTA CITA, juga menyebutkan pemberantasan narkoba menjadi prioritas
pemerintahannya.

 

Untuk itu, Lembaga Anti Narkotika (LAN) Kabupaten Sintang mengajak pelajar untuk
turut serta melawan Narkoba.
Ade Muhammad Iswadi SE, C.HL., C.H., C.PS., C.PPS., C.TM., Ketua LAN KAbupaten Sintang,
mengungkapkan pihaknya telah melakukan upaya penyadartahuan terkait dampak buruk narkoba.

 

Setidaknya setelah mengajak pelajar di Panti Asuhan di daerah Kecamatan Kelam sambil menyampaikan
Al Quran Waqaf yang diamanatkan, LAN Sintang juga melakukan sosialisasi dan menagajak pelajar di
SMP Negeri 6 Sintang untuk melakukan perlawanan twerhadap Narkoba.

 

Ami, sapaan akrab Ketua LAN Sintang, juga menjelaskan kalau pihaknya kerap menjelaskan berdasarkan
keterangan medis, dampak dari penggunaan narkoba seperti esktasi yang dapat merusak otak dan
memperlemah daya ingatan, dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan jantung, kecanduan dan
kesulitan untuk berhenti. “Hasil penelitian medis juga menyebutkan pengguna ekstasi juga kebanyakan
depresi berat dan alami gangguan kejiwaan, bahkan tidak jarang erujung pada kematian,” kata dia.

 

Aktivitas organisasi yang sempat menjabat sebagai Ketua KPU Sintang ini juga menyebutkan dampak
buruk Narkoba jenis sabu yang mengancam fungsi hati, ginjal, dan syaraf. “Efek sabtu terhadap tubuh,
pengguna akan berperilaku abnormal, mudah bingung, berkhayal dan behalusinasi, mudah cemas,
marah, bahkan berujung pada kematian akibat pecahnya pembuluh darah di otak,” ungkapnya, belum
lama ini.

 

Dia juga menjelaskan adanya info resmi pada tanggal 26 Juni 2024 yang menyebutkan Laporan Narkoba
Dunia UNODC 2024 yang mengungkap bahaya masalah narkoba dunia terus meningkat di tengah
perluasan penggunaan dan pasar narkoba.

 

Kemunculan opioid sintetik baru, lanjut Ami, seperti opioid sintetik adalah zat yang disintesis di
laboratorium dan bekerja pada target yang sama di otak seperti opioid alami semisalnya, morfin dan
kodein untuk menghasilkan efek analgesic/pereda nyeri serta tingginya permintaan dan pasokan obat￾obatan lain telah memperburuk dampak masalah narkoba dunia. “Itu semua yang menyebabkan
peningkatan gangguan penggunaan narkoba dan juga kerusakan lingkungan,” kata Ami menjelaskan
apa yang menjadi Laporan Obat Dunia 2024 yang diluncurkan Kantor PBB untuk Urusan Narkoba.

Narkoba dan Kejahatan (UNODC).
Perlu diingat, sambung Ami, kalau dikatakan Indonesia darurat narkoba pada tahun 2017 lalu tapi
anehnya data pada tahun 2022 setidaknya menyebutkan adanya kenaikan permasalahan narkoba
hingga 300 persen. “Dan sebetulnya jika dikatakan Indonesia Darurat Narkoba sudah diumumkan pada
tahun 1971 masa pemerintahan Presiden Suharto,” ungkap Ami sembari berharap Pemerintahan
Prabowo benar-benar menjalankan salah satu poin prioritas dalam misinya yaitu memberantas Narkoba.

 

 

Dia juga mengingatkan betapa dampak buruk narkoba itu telah mengkhawatirkan. Karena setidap hari
40-50 orang mati karena terpapar narkoba dan dalam setahun ad1 18.000 jiwa melayang akibat
narkoba. “Kondisi ini harusnya sudah cukup menjadikan semua pihak, terutama pemerintah untuk
benar-benar memberantas narkoba sebagaimana program pemerintah yaitu P4GN atau Pemberantasan
Pencegahan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba,” tutup Ami yang juga mencemaskan
kondisi pemuda menuju Indonesia Emas 2045 yang bisa terancam dengan perang candu karena
mengingat maraknya peredaran narkoba dengan berbagai macam cara dan parahnya juga mendapatkan
backingan oknum institusi terkait yang seharusnya turut serta melakukan pemberantasan narkoba.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *