Dibalik Sejarah Pers Sulawesi Selatan Ada Tersirat Keinginan VOC Menguasai Opini Rakyat Indonesia Bagian Timur

 

 

KLTV INDONESIA
klivetvindonesia.comSejarah adalah peristiwa yang benar- benar terjadi dimasa lampau , maka rekam jejak sejarah perlu diketahui oleh generasi penerus . 

 

Sehubungan dengan hal tersebut kita juga perlu mengetahui istila Pers (bahasa Belanda ) atau press ( bahasa Inggris ) .Pers (person ) atau press artinya tekan . Istilah tersebut dipakai pula untuk wartawan televisi dan radio yang tidak menggunakan media cetak .

 

Sebagai media komunikasi massa , pers pertama – tama berfungsi sebagai media pernyataan antara manusia . Namun karena pernyataan yang disalurkan oleh pers itu bersifat umum , terbuka dan aktual , maka pers menjelma sebagai lembaga kemasyarakatan yang memiliki fungsi sosial yang kompleks .

 

Seiring dengan perkembangan zaman, maka pers mempunyai pengaruh yang cukup besar. Pers telah menjadi sala satu kebutuhan fital manusia abad ini . Dengan demikian pers mempunyai potensi yang sangat besar dalam membentuk watak , sikap dan kepribadian manusia dan masyarakat . Dari sedikit kesedikit pers sebagai media komunikasi massa tersebut membangun suatu kepribadian yang kokoh pada individu dan masyarakat . Fungsi Pers yaitu untuk mendidik, menghibur dan kontrol sosial. Pers juga menjadi pilar penting dalam kehidupan berdemokrasi .

 

Di Sulawesi Selatan, sejarah pers memiliki perjalanan panjang yang tak hanya mencatat kemajuan jurnalistik, tetapi juga kontribusi signifikan dalam pembangunan sosial, budaya, dan politik daerah. Peran pers di Sulawesi Selatan tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan, dinamika politik, dan transformasi media yang terus berkembang hingga kini.

 

Awal Mula Pers di Sulawesi Selatan

 

Pers Pertama di Sulawesi Selatan bertaut dengan kepentingan penjajahan Belanda , terutama perluasan niaga perkumpulan dagang Hindia Timur yang disebut VOC ( Verenidge Oost Indische Compagnie ) ketika dipimpin Gubernur Jendral Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang moderat , maka Belanda mendatangkan percetakan letter press dari Jerman , kemudian dialokasikan di Makasssr .

 

Keberadaan percetakan letter Press di Makassar , membuat pemerintah Belanda menerbitkan suratkabar “Makassarsche Courant”, Niews Handels en Advertentieblad bahasa Belanda Handelsds Cellebes , 1895. Surat kabar ini yang menandai awal perjalan panjang sejarah pers di Sulawesi Selatan .

 

Berdasarkan data pada kantor Arsip dan Perpustakaan Nasional di Jakarta, diketahui bahwa bentuk koran ini berukuran folio dengan 2 halaman .Kemudian pemerintah Belanda bermaksud menguasai opini rakyat di Indonesia Bagian Timur, hingga menerbitkan mingguan ” Dagblad Celebes ” , tetap menggunakan letter press dengan ukuran folio , 4 halaman saja . Koran mingguan ini diterbitkan Drukkerij W Eekkout , ternyata hanya mampu hidup beberapa bulan. Terbit perdana pada tanggal 2 Januari 1914, kemudian berhenti terbit pada tanggal 14 September 1914.

 

Dunia pers di Makassar terpengaruh oleh terbitnya suratkabar ” Medan Priaji ” di Medan pada tahun 1903 yang berbasis pribumi , sehingga perkongsian beberapa Boemi Poetera di Makassar menerbitkan mingguan “Anak Kantji ” yang berbahasa Bugis ( menggunakan aksara lontara Bugis dengan tulisan tangan ). Surat kabar inilah yang menanda titik awal hadirnya pers yang dikelola ” Boemi Poetra ( warga pribumi ).

Namun, usai koran ini tidak panjang , karena tirasnya hanya 25 eksemplar setiap terbit beredar di kalangan Boemi potera kelahiran Bugis saja . Terbit perdana pada 3 Januari 1920 dan berhenti terbit dalam bulan Agustus 1921 .Tidak panjang usia suratkabar yang berukuran folio ini, lantaran pendidikan di kalangan suku Bugis pada waktu itu masih rendah . Masih terbatas suku Bugis di Sulawesi Selatan yang menguasai huruf aksara lontara Bugis , apalagi bahasa Melayu . Disamping itu , Koran ini lebih cendrung menonjolkan berita perdagangan antara pulau , soal kegiatan bongkar muat kapal di pelabuhan Tallo. Dulu alur muara sungai Tallo . Pukul rata benteng kerajaan di Sulawesi Selatan , didirikan di kawasan pantai , paling tidak di bantaran sungai yang dekat dengan alur pelayaran kapal untuk tempat lego -jangkar atau berlayar .

 

Sementara itu warga Ambon di Makassar menerbitkan pula Koran “Sinar Matahari” oleh Drukkerij – Mercurius . Koran ini mulai terbit pada tanggal 2 Oktober 1918 dan berhenti terbit pada 4 Maret 1921 .Namun demikian pada tanggal 15 Agustus 1924, warga Ambon di Makassar menerbitkan suratkabar ” Soeda Ambon ” kemudian berhenti terbit pada tanggal 31 Desember 1925 .Hampir bersamaan waktunya terbit pada tanggal 14 Desember 1925 . Para pemuda pergerakan di Makassar menerbitkan suratkabar “Soeloeh Timoer “,Organ Timorsch Verbond tahun 1922 – 1929. Kemudian para pemuda pergerakan nasional menerbitkan pula suratkabar “Soelo Celebes ” (1931 – 1938). Bersamaan itu diterbitkan pula majalah bulanan “Soera Pergerakan Menoentoet Kebebasan Igama “tahun 1937 – 1939 diterbitkan oleh Volksbelang .Suratkabar ini bermaksud menciptakan dan mengkondisikan kebebasan beragama , membina kerukunan antarumat beragama dan melaksanakan syariat agama bagi masing – masing pemeluknya .

 

Melihat perkongsian beberapa Boemi Poetera yang berasal dari suku Bugis , mampu menerbitkan Koran dengan bahasa Bugis , maka kalangan warga Tionghoa di Makassar menerbitkan pula Koran dengan menggunakan huruf kanji ( bahasa Tionghoa ) judulnya “Chau Sing “. Usianya juga tidak lama . Terbit perdana pada tanggal 3 Maret 1928 dan berhenti terbit pada tanggal 19 Mei 1929.

 

Masa Kemerdekaan RI

Setelah proklamasi kemerdekaan RI dibacakan oleh Soekarno/ Hatta , maka suratkabar ” Soeara Indonesia ” yang diterbitkan oleh Manai Sophiaan , menyiarkan teks proklamasi tersebut , akibatnya dia diusir oleh pemerintah Belanda yang kembali berkuasa di Sulawesi Selatan .Pasca menyerahnya serdadu Nippon terhadap tentara Sekutu ( Tentara Amerika dengan sekutunya ), menyusul jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Herosima Jepang . Para pejuang di Bulukumba menerbitkan Harian “Beni Merdeka ” yang merupakan organ resmi Pemuda Merah Putih di Bulukumba ( 1945 – 1946 ) .

 

Pada tahun 1949 terbit harian ” Bergerak ” oleh Bung Amal di Parepare .Terbit pula harian “Jelata ” yang dipimpin oleh Andi Mannaungi sebagai pemuda pejuang di Parepare (1949-1950).

 

Tahun 1947 – 1948 di Makassar terbit mingguan “Ploretariat ” yang diterbitkan Hasan Radjalola , mingguan “Nusantara ” oleh A.N Hadjarati ,”Dinamika ” dan mingguan “Wirawan ” oleh Berti Korompis.

 

Ketika pemerintahan Belanda kembali berkuasa dengan menghadirkan NICA ( Netherland Indies Civil Administration ) , kemudian memberlakukan SOB ( Staat van Oorlog en Beleg ) .Akibatnya , tiga wartawan diseret ke pengadilan , yakni Berti Korompis dari mingguan “Wirawan “,A.N.Hadjarati dari mingguan “Nusantara ” dan Hasan Radjaloa dari “Ploretariat ” dimasukkan ke penjara dengan hukuman 3 – 4 bulan. Ketiganya dihukum lantaran menolak berdirinya negara Indonesia Timur (NIT) sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat.

 

Tahun 1947 negara Indonesia Timur yang tergabung dalam Negara Indonesia Serikat terbentuk .Sejumlah wartawan Sulawesi Selatan yang setia pada proklamasi 1945 disebut “kaum republikan ” menolak bekerjasama dengan pemerintahan Negara Indonesia Serikat .

 

Masa Orde Baru

 

Pada masa Orde Baru, media di Sulawesi Selatan mengalami pembatasan yang ketat. Seperti di banyak daerah lain, kebebasan pers dibatasi dan pemerintah memiliki kontrol yang besar atas media. Meski begitu, banyak jurnalis dan media lokal yang tetap berusaha menjalankan peran mereka dalam memberikan informasi kepada masyarakat, meskipun dalam situasi yang serba terbatas.

 

Reformasi: Kebebasan Pers yang Semakin Terbuka

 

Perubahan besar terjadi pada era Reformasi 1998 , ketika kebebasan pers mulai diakui dan dipertegas dengan lahirnya Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam era ini, media di Sulawesi Selatan mulai mengalami kebangkitan yang luar biasa. Surat kabar dan stasiun radio semakin banyak bermunculan, bahkan media online mulai berkembang pesat di era digital. Kebebasan dalam menyampaikan pendapat, informasi, dan kritik menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan daerah.

 

Di masa Reformasi ini, media di Sulawesi Selatan tidak hanya berfokus pada pemberitaan politik dan ekonomi, tetapi juga mulai memperhatikan isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat setempat. Media menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka, serta memberi ruang bagi komunitas lokal untuk dikenal lebih luas.

 

Perkembangan Pers Digital di Sulawesi Selatan

 

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, pers di Sulawesi Selatan turut mengikuti arus digitalisasi. Media online menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih cepat dan up-to-date. Banyak media lokal yang kini memiliki platform digital, dan beberapa di antaranya bahkan hanya beroperasi di dunia maya. Keberadaan media digital ini semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses berita, khususnya yang berkaitan dengan isu-isu lokal.

 

Media sosial juga semakin mendominasi cara kita mengonsumsi berita. Platform seperti Facebook, Instagram, dan Twitter menjadi saluran utama bagi masyarakat untuk berbagi informasi. Dalam hal ini, pers di Sulawesi Selatan harus bisa beradaptasi dengan perubahan ini agar tetap relevan dan bisa bersaing dalam dunia media yang semakin terbuka dan tanpa batas.

 

Tantangan Pers di Sulawesi Selatan

 

Meski sudah banyak kemajuan, pers di Sulawesi Selatan tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah masalah kesenjangan dalam akses informasi. Di daerah-daerah terpencil, misalnya, jangkauan media masih terbatas, dan banyak masyarakat yang belum sepenuhnya dapat mengakses informasi dengan mudah. Selain itu, tantangan lain adalah meningkatnya jumlah berita hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi, yang menjadi masalah besar bagi pers yang mengedepankan integritas dan keakuratan.

 

Kesimpulan: Masa Depan Pers Sulawesi Selatan

 

Sejarah pers di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa meskipun telah melalui banyak rintangan dan tantangan, pers selalu memiliki peran penting dalam memajukan masyarakat. Ke depan, pers di Sulawesi Selatan diharapkan bisa terus berkembang dengan menghadapi tantangan zaman. Dalam dunia yang semakin digital dan terbuka ini, media harus semakin bijak dan profesional dalam menyampaikan informasi yang berimbang, akurat, dan dapat dipercaya. Selain itu, masyarakat juga perlu didorong untuk menjadi pembaca yang cerdas, yang tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi juga mampu memilah dan memilih berita yang baik.

 

Sebagai salah satu bagian penting dari kehidupan sosial dan demokrasi, pers di Sulawesi Selatan harus terus memainkan peran yang lebih besar, baik dalam menjaga kebebasan berpendapat maupun dalam memberikan informasi yang membangun, agar dapat berkontribusi lebih dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan terinformasi dengan baik.

 

Opini: Pers Telah Memasuki Empat Zaman: Penyiar Radio, Media Cetak, Media TV, dan Media Online

 

Pers adalah salah satu pilar utama dalam kehidupan demokrasi, memberikan informasi yang diperlukan publik untuk membuat keputusan yang tepat. Dalam perjalanan sejarahnya, pers telah mengalami evolusi yang signifikan, mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Kini, kita dapat melihat bahwa pers telah memasuki empat zaman besar yang masing-masing memberikan dampak besar terhadap cara kita mengonsumsi informasi. Keempat zaman tersebut adalah zaman penyiaran radio, media cetak, media televisi, dan media online. Setiap era ini membawa karakteristiknya sendiri dan memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah komunikasi massa.

 

Zaman Penyiaran Radio: Era Suara yang Menjangkau Jauh

 

Penyiaran radio muncul pada awal abad ke-20 dan segera menjadi salah satu bentuk komunikasi yang paling populer. Pada masa ini, radio menjadi alat informasi utama, memberikan berita kepada masyarakat luas dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Radio membuka pintu bagi informasi untuk menjangkau khalayak yang lebih besar, bahkan di daerah-daerah yang lebih terpencil.

 

Selain itu, radio mempermudah distribusi berita dengan cara yang lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Radio juga memiliki peran penting dalam membangkitkan semangat nasionalisme di masa perjuangan kemerdekaan dan memberikan informasi yang diperlukan masyarakat selama masa-masa kritis, seperti perang dan krisis. Era penyiaran radio ini, meskipun terbatas oleh waktu siarannya, telah menjadi bagian integral dari sejarah pers di banyak negara.

 

Zaman Media Cetak: Informasi Tertulis yang Lebih Detail dan Terstruktur

 

Seiring berkembangnya teknologi, media cetak seperti koran dan majalah mulai muncul dan menjadi sangat dominan pada abad ke-20. Era media cetak memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan cara yang lebih terperinci dan terstruktur. Koran dan majalah menjadi sarana utama untuk mengikuti perkembangan berita politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

 

Di Indonesia, media cetak sangat berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Surat kabar menjadi saluran penting untuk menyampaikan aspirasi rakyat dan mengkritik pemerintah kolonial. Setelah kemerdekaan, media cetak terus memainkan peran besar dalam proses pembangunan dan demokratisasi, memberikan ruang untuk diskusi, opini, dan laporan investigatif.

 

Namun, meskipun memiliki pengaruh besar, media cetak kini menghadapi tantangan besar dengan berkurangnya jumlah pembaca. Semakin banyak orang beralih ke media digital yang lebih cepat dan mudah diakses, dan biaya cetak yang semakin mahal juga menjadi hambatan.

 

Zaman Media Televisi: Visualisasi yang Mengubah Cara Berita Disampaikan

 

Munculnya televisi pada tahun 1950-an menjadi revolusi besar dalam dunia media. Media televisi tidak hanya menyajikan informasi melalui suara, tetapi juga dengan gambar bergerak. Hal ini memberi dimensi baru dalam cara orang mengonsumsi berita, di mana informasi disampaikan secara lebih visual dan langsung.

 

Televisi menjadi media utama bagi keluarga di rumah untuk memperoleh informasi. Berita yang disampaikan melalui televisi lebih hidup, memungkinkan pemirsa untuk melihat kejadian langsung dan merasakan dampaknya. Era televisi juga menyaksikan munculnya program-program berita yang mengubah cara masyarakat memandang dunia, baik melalui berita malam maupun acara talkshow politik.

 

Namun, meskipun televisi memberikan informasi secara lebih imersif, ia juga menjadi media yang terbatas oleh waktu siarannya. Hanya sedikit saluran yang dapat menyediakan berita secara langsung, dan ini membuat televisi mulai menghadapi tantangan dari teknologi baru.

 

Zaman Media Online: Kecepatan dan Akses Tanpa Batas

 

Saat ini, kita hidup dalam zaman media online yang memanfaatkan internet untuk menyebarkan informasi ke seluruh dunia. Media online membawa kebebasan informasi ke tingkat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Situs berita, blog, dan media sosial telah merevolusi cara kita mengakses berita. Tidak lagi terbatas oleh waktu siaran atau ruang fisik, media online memberikan akses informasi secara instan, kapan saja dan di mana saja.

 

Dengan kehadiran media sosial, setiap orang kini dapat menjadi “wartawan” dan berbagi informasi dengan jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Media online memungkinkan berita tersebar dengan sangat cepat, namun juga membawa tantangan baru, seperti penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, hoaks, dan berita palsu.

 

Selain itu, kemunculan platform digital seperti YouTube dan podcast telah memungkinkan jurnalis dan pembuat konten untuk menyajikan berita dengan format baru yang lebih fleksibel, menarik, dan interaktif. Era digital ini juga mengubah pola konsumsi media, di mana audiens lebih memilih untuk mengakses berita melalui perangkat mobile mereka daripada membeli koran atau menonton televisi.

 

Kesimpulan: Evolusi Pers dan Tantangan di Masa Depan

 

Evolusi pers dari zaman penyiaran radio hingga media online menunjukkan betapa pesatnya perubahan dalam cara kita mengonsumsi informasi. Setiap zaman telah membawa karakteristik dan keunikan tersendiri, mulai dari dominasi suara di radio hingga kecepatan dan aksesibilitas tanpa batas yang ditawarkan oleh media online. Namun, meskipun teknologi terus berkembang, prinsip dasar pers tetap sama, yaitu memberikan informasi yang akurat, objektif, dan relevan.

 

Tantangan terbesar media di masa depan adalah bagaimana menjaga integritas dan kualitas informasi di tengah derasnya arus informasi digital. Peran media dalam memberikan edukasi, mengedukasi masyarakat tentang literasi digital, serta menjaga kebebasan pers, akan terus menjadi kunci dalam membentuk demokrasi yang sehat.

 

Sebagai masyarakat, kita harus bijak dalam mengonsumsi informasi dari berbagai sumber dan mendukung media yang menjalankan tugasnya dengan profesionalisme dan tanggung jawab. Dengan demikian, meskipun pers telah melewati empat zaman besar, perannya dalam kehidupan kita akan terus relevan dan penting di masa yang akan datang. Sumber Sejarah Pers Sul – Sel dan dikutip dari berbagai sumber lainnya.

 

 

 

Penulis: FRANS KATO

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *