Oleh : Dr(c), Ir. Karolus Karni Lando, MBA
KLTV INDONESIA
–klivetvindonesia.com– Keadaan Indonesia saat ini di bawah” pemerintahan Presiden Joko Widodo” (Jokowi), kita perlu melihat beberapa aspek yang berkaitan dengan indikasi kegagalan pemerintah, “utang negara, potensi krisis ekonomi,” penderitaan rakyat, proyek Ibu Kota Negara (IKN), dan “nilai tukar Rupiah “terhadap “Dollar Amerika.” Berikut adalah ulasannya:
*INDIKASI KEGAGALAN PEMERINTAH*
*1. Utang Negara Meroket*:
*Fakta*: Utang Indonesia telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik utang dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini sebagian besar digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur dan kebutuhan APBN.
*Indikasi Kegagalan*: Peningkatan utang yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan negara dan produktivitas ekonomi dapat menjadi indikasi kegagalan dalam pengelolaan keuangan negara.
*2. Pengangguran Meningkat:*
*Fakta*: Pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak perusahaan tutup atau mengurangi jumlah karyawan, yang meningkatkan tingkat pengangguran.
*Indikasi Kegagalan*: Jika pemerintah tidak berhasil menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan stimulus yang cukup untuk sektor-sektor yang terdampak, maka ini bisa dilihat sebagai kegagalan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
*3. Harga-Harga Membubung Tinggi:*
*Fakta*: Inflasi dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok memang telah terjadi, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor termasuk kebijakan ekonomi, kondisi global, dan masalah distribusi.
*Indikasi Kegagalan*: Ketidakmampuan mengendalikan inflasi dan memastikan harga tetap terjangkau bagi rakyat dapat dianggap sebagai kegagalan dalam kebijakan ekonomi dan sosial.
*4. Rupiah Terpuruk Terhadap Dollar*:
*Fakta: Nilai tukar* Rupiah terhadap Dollar AS memang mengalami fluktuasi dan sering kali mengalami tekanan.
*Indikasi Kegagalan*: Ketidakmampuan menjaga stabilitas nilai tukar dapat mencerminkan kelemahan dalam kebijakan moneter dan fiskal serta ketidakstabilan ekonomi makro.
*5. Ketergantungan Rakyat pada Bansos*:
*Fakta*: Peningkatan program bantuan sosial (Bansos) selama pandemi COVID-19 adalah langkah darurat untuk menjaga daya beli masyarakat.
*Indikasi Kegagalan*: Jika ketergantungan pada Bansos berlangsung lama dan tidak ada upaya signifikan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi rakyat, ini bisa dianggap sebagai kegagalan dalam menciptakan ekonomi yang berkelanjutan.
*POTENSI KRISIS EKONOMI*
Potensi krisis ekonomi di Indonesia dapat terjadi jika beberapa faktor tidak segera ditangani dengan tepat:
*Defisit Anggaran dan Utang*: Jika defisit anggaran dan utang terus meningkat tanpa diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang memadai, Indonesia bisa menghadapi krisis utang.
*Inflasi dan Ketidakstabilan Harga*: Inflasi yang tidak terkendali bisa menggerus daya beli masyarakat dan meningkatkan angka kemiskinan.
*Nilai Tukar*: Ketidakstabilan Rupiah bisa mempengaruhi investasi asing dan meningkatkan biaya impor, yang dapat memperburuk situasi ekonomi.
*PENANGGULANGAN*
Untuk mengatasi potensi krisis ini, beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
*Reformasi Fiskal*: Meningkatkan efisiensi belanja negara dan memperluas basis pajak untuk meningkatkan pendapatan.
Pengendalian Inflasi: Memperkuat koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas harga.
*Diversifikasi Ekonomi*: Mendorong sektor-sektor ekonomi baru dan meningkatkan daya saing industri domestik.
*Penguatan UMKM*: Memberikan dukungan dan insentif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah agar bisa berkembang dan menciptakan lapangan kerja.
*PROYEK IBUKOTA NEGARA (IKN)*
Proyek IKN di Kalimantan Timur adalah salah satu proyek ambisius pemerintahan Jokowi. Proyek ini bertujuan untuk mendistribusikan pembangunan lebih merata dan mengurangi beban Jakarta.
*Pro*: Potensi untuk mendorong pembangunan di luar Jawa dan membuka lapangan kerja baru.
*Kontra*: Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, alokasi dana yang besar untuk proyek ini bisa menjadi beban tambahan bagi anggaran negara.
*NILAI TUKAR RUPIAH*
Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, dan stabilitas politik.
*Penguatan Rupiah*: Bisa dicapai dengan menjaga stabilitas ekonomi, menarik investasi asing, dan memperbaiki neraca perdagangan.
*Pelemahan Rupiah*: Bisa terjadi jika ada ketidakpastian ekonomi atau politik yang tinggi, serta jika ada peningkatan permintaan Dollar untuk pembayaran utang luar negeri.
*KESIMPULAN*
Keadaan ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dengan meningkatnya utang, inflasi, dan tekanan pada Rupiah. Penanganan yang tepat melalui reformasi kebijakan, diversifikasi ekonomi, dan pengendalian inflasi sangat penting untuk mencegah krisis ekonomi lebih lanjut. Proyek IKN perlu dievaluasi kembali untuk memastikan manfaatnya sebanding dengan biayanya, terutama dalam kondisi ekonomi yang menantang. Peningkatan kesejahteraan rakyat harus menjadi fokus utama agar ketergantungan pada bantuan sosial bisa dikurangi secara bertahap.





