Jalan Nagori Panembean Marjanji Rusak Parah, Butuh Perbaikan.

klivetvindonesia.com Simalungun – Awak Media ketika melintasi jalan di Nagori Panembean Marjanji yang menghubungkan dengan Nagori Huta Bagasan Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun (Provsu) kondisinya sangat memprihatinkan.6/09/2023

Jalanan tanah tersebut jika usai hujan terlihat genangan air seperti kolam hal itu berada di badan jalan. Para warga terutama sebagai pengguna jalan dengan terpaksa harus melintasi genangan air, nyaris seperti kubangan.

Saat diwawancarai penduduk bermarga Sitorus yang kebetulan melintasi jalan rusak tersebut menjelaskan kepada Jurnalis KLTV, bahwa perhatian pemerintah sangat dibutuhkan untuk perbaikan jalan ini. Namun hingga kini harapan ya tinggal harapan.

 

Menjawab pertanyaan Wartawan, sembari tersenyum Sitorus mengatakan
meskipun ada wakil rakyat (DPRD-red) di Daerah pemilihan (Dapil-red) tak bisa diharapkan, alasannya cukup lama kami
dari dua Nagori ini menikmati jalan ini.

Masih bersama Sitorus yang tak sudi menyebut Namanya cukup marga sajalah Pak,katanya. Kalau kita dilihat sekarang sedang gencar pembangunan
Aspirasi kalau tak salah Saya, itukan DPRD yang mengarahkan ke daerah pemilihannya. Jadi Nagori ini seperti
tidak diperhitungkanlah.

Sembari bertanya kepada Wartawan salahkah saya jika mengatakan keluhan
Kami ini, kalau salah biar ditarik pernyataan ini, kemudian minta izin permisi.

Pangulu Nagori Panembean Marjanji Hendrik Siahaan saat diwawancarai di Kantornya menjelaskan bahwa, kerusakan jalan Kampung ini sudah cukup lama. Kami sangat butuh perhatian Bupati Simalungun, akibat akses jalan rusak maka biaya angkut hasil bumi pertanian semakin membengkak (bertambah-red), katanya.

Masih berbincang dengan H.Siahaan menuturkan, apalagi jalan alternatif dari Kampung ini menuju kejalan besar tak ada lain. Sehari hari hasil bumi melewati jalan itu yang akan dibawa ke pasar.

Harapan kami mewakili warga kedua Nagori Panembean Marjanji dan Huta Bagasan hendaknya akses jalan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten.

Satunya kesimpulan meringankan biaya beban terhadap warga petani adalah, perbaikan jalan untuk kelancaran  mendistribusikan hasil jerih payah para petani.

 

Dulu warga Nagori ini, tutur Pangulu selain berladang banyak bercocok tanam padi, hasilnya dalam kurun waktu setahun hanya dua kali panen. Kini banyak petani beralih tanam jagung bisa menghasilkan panen tiga kali setahun.

Sedangkan peralihan ketanaman sawit yang terlihat signifikan karena, hasilnya cukup menjanjikan. Sekarang di Nagori Panembean Marjanji lebih kurang seluas 75 hektar untuk tanaman sawit, imbuhnya.

(S.Sitorus).

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *