Dibalik Sistiem Pemilu Proporsional Tertutup Ada Kepentingan Yang Terselubung

SULSEL_KLTV INDONESIA

– –REDAKTUR :FRANS KATO

klivetvindonesia.com– Sistem Pemilu Proporsional tertutup sepertinya kecenderungannya “lebih berpihak terhadap pengurus partai “ketimbang kader yang bukan pengurus partai”. Karena tidak mungkin pengurus partai yang bersedia mencalonkan dirinya pada pencalonan anggota dewan perwakilan rakyat mau mendaftarkan namanya pada nomor urutan tua.

Kondisi ini sangat kita sayangkan jika benar sistim Pemilu Proporsional Tertutup benar diberlakukan, berarti syarat dengan kepentingan karena bukan peserta calon yang dipilih tapi partai”. Maka akan menutup peluang bagi sesama kader untuk berkompetisi yang sehat . Karena belum tentu calon dari sebuah partai yang memperoleh suara terbanyak akan duduk jika yang bersangkutan mendapat nomor urutan tua. Maka yang akan berpeluang untuk duduk sebagai anggota dewan perwakilan rakyat yakni kader dari sesama partai yang mendapat nomor urutan muda”.

Keterkaitan dengan sistem proporsional tertutup tersebut tidak menutup kemungkinan akan “mencetak politisi yang mengakar keatas dari pada kebawah” . Di satu sisi tanpa disadari bahwa kita sepertinya “mengabaikan kepercayaan rakyat terhadap wakil rakyat yang di pilih rakyat untuk duduk sebagai wakil rakyat” di parlemen. Lebih dari itu terkesan kita , “tidak memberi pendidikan politik yang baik terhadap rakyat yang kita cinta ini”.

Sistem Proporsional tertutup tersebut “lebih suka oleh pemimpin partai yang memakai sistem komando”, maka segala perintahnya harus ditaati oleh kader partai” . Sistem yang demikian , tidak menutup kemungkinan “menutup keran berdemokrasi “pada sebuah partai yang senang hal yang demikian .

FRANS KATO

Melihat fenomena sistem pemilu proporsional tertutup yang demikian, kita mengharapkan tetap memperlakukan sistim proporsional terbuka yang sudah beberapa kali kita jalani pada pemilu legislatif sebelumnya. Sistem ini memberi kesempatan kepada kader partai untuk ekstra kerja keras menjaring suara dan memberi ruang yang sama kepada kader partai untuk berkompetisi yang sehat , siapa yang suara terbanyak kader itulah yang akan duduk menjadi anggota legislatif karena pilihan rakyat . (Frans Kato )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *