SULSEL_KLTV INDONESIA
LukmanDaengMappagau
–klivetvindonesia.com–
Budaya Siri’ merupakan tuntutan budaya terhadap setiap individu dalam masyarakat Sulawesi Selatan untuk mempertahankan kesucian mereka, Sehingga keamanan, ketertiban dan kesejahteraan tetap terjamin.
Dengan demikian, Siri’ pada diri manusia terkhusus Suku Bugis Makassar dapat muncul dari berbagai realitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Jika seseorang telah dibuat tersinggung oleh kata-kata atau tindakan orang lain yang dianggap tidak sopan, maka seluruh anggota keluarganya akan ikut merasa tersinggung dan melakukan pembalasan terhadap orang itu demi menegakkan harga diri, terutama harga diri KELUARGA.
Salah satu realitas sosial yang paling banyak berhubungan dalam masalah Siri’ adalah perkawinan. Jika seseorang telah dibuat malu, misalkan anak perempuan gadisnya telah dibawa lari (silariang) oleh seorang pemuda, maka seluruh pihak keluarga dari si perempuan itu merasa berkewajiban untuk mencari dan menindaki baik secara ADAT maupun Hukum yang berlaku demi menegakkan Siri’ yang merupakan Budaya Bugis Makassar.

Dalam keyakinan Bugis/Makassar bahwa “orang yang mati terbunuh karena menegakkan siri’ matinya adalah mati syahid, atau yang mereka sebut sebagai Mate Risantangngi atau Mate Rigollai”, yang artinya bahwa kematiannya adalah ibarat kematian yang terbalut santan atau gula.
Salah satu falsafah Bugis dalam kehidupan bermasyarakat adalah “Mali siparampe maliu sipakainge, dan  “pada idi’ pada elo’ sipatuo sipatokkong”. Artinya, ketika seseorang sanak keluarga atau kerabat tertimpa kesusahan atau musibah maka keluarga yang lain ikut membantu. Dan kalau seseorang cenderung terjerumus kedalam hal-hal negatif karena khilaf maka keluarga yang lain wajib untuk memperingati dan meluruskannya.
Jadi, seorang pemimpin yang memiliki budaya siri’ dalam dirinya akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki keberanian serta ketegasan, namun tetap bijaksana dalam memimpin. Seorang pemimpin yang memegang prinsip ini akan membawa BANGSA ini menuju kearah yang lebih baik, karena mereka memiliki rasa peka terhadap lingkungan, mampu mendengarkan apresiasi-apresiasi orang-orang yang mereka pimpin.
Dan Perkara SIRI” memang Sudah menjadi HARGA MATI Bagi Kami orang SULSEL.
Jadi jangan pernah mengganggu 3.Hal Pamali (Pantangan) bagi kami” Yang Pertama_
1. Orang Tua
2. Istri
3. Anak
Karena kalau Pribadi sendiri yang anda sakiti mungkin kami masih bisa maafkan, tapi kalau yang berhubungan dengan Orang Tua, Istri dan Anak, Itu sudah menjadi Harga Mati bagi kami untuk membela KELUARGA.
Karena Suku BUGIS, MAKASSAR, MANDAR, TORAJA (SulawesiSelatan) Adalah Keluarga Besar Kerajaan Gowa-Tallo Makassar yang masih memertahankan budaya “Siri Na Pacce” Yang artian katanya lebih baik MATI dari pada MALU.
Jadi marilah kita saling menghargai dan menghormati sesama, Apapun SUKU Dan AGAMA itu bukan menjadi perbedaan, Kami tetap SATU. Satu Nusa satu Bangsa, Satu INDONESIA Raya. Dari Sabang Sampai Maraoke Kami adalah Saudara. 🙏

#INDONESIAMERDEKA
#NKRIHargaMati
#DariAdatUntukINDONESIA
#LukmanDaengMappagau.(KetuaPANIKotaMakassar)





