klivetvindonesia.com JAKARTA – Partai Amanat Nasional (PAN) turut membela aksi mahasiswa yang tergabung di dalam Badan Eksekutf Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).
Anggota DPRD DKI Jakarta Farazandi Fidinansyah milihat, apa yang dilakukan BEM UI seharusnya dimaknai sebagai kritik dan masukan untuk perbaikan.
“PAN membela hak kebebasan berpendapat sebagai esensi demokrasi dan amanat reformasi. Kampus harus jadi ruang adu gagasan, bukan setiap kritik malah dibungkam dengan hukuman,” kata Farazandi dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (2/7).
Imbas kritik tersebut, Rektorat UI memanggil pengurus BEM UI. Mereka diminta Rektorat Universitas Indonesia (UI) untuk memberikan klarifikasi mengenai poster kritik untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Farazandi menjelaskan, hak tersebut sangat berlebihan, jika ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan cara atau isi dari pernyataan BEM UI, maka sebaiknya disampaikan dalam ruang adu ide dan gagasan.
“Berlebihan menurut saya jika mahasiswa harus dipanggil pihak kampus dan katanya diberikan pembinaan. Padahal seharusnya dibuka ruang dialog dan mereka yang tidak setuju bisa sampikan argumentasinya,” ucap Politikus Muda Partai Amanat Nasional itu.
Secara khusus, Farazandi yang pernah menjadi pengajar di Universitas Prasetiya Mulya ini berharap mahasiswa terus menyampaikan pendapatnya dan sarannya untuk perbaikan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
“Inilah esensi demokrasi dan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab,” tandas Wasekjen DPP PAN itu.
Sebelumnya, BEM UI melalui unggahan di media sosial mengkritik Presiden Jokowi sebagai “King of Lips Service”, dan akhirnya mereka yang tergabung dalam anggota BEM UI tersebut di panggil pihak Rektorat.
Diketahui, dalam laman resmi Instagram Partai Amanat Nasional (PAN), Farazandi mengatakan PAN secara tegas membela BEM UI, karena Demokrasi memberi ruang bagi meraka yang berbefa pendapat dan diselesaikan dengan adu gagasan.
“PAN membela BEM UI, karena kami percaya karena kampus harus jadi ruang gagasan, jangan setiap kritik dibungkam dengan hukuman, kalau tidak setuju sampaikan argumentasi bukan ditakut-takuti,” demikian Farazandi, dikutip dari laman resmi Instagram PAN @amanatnasional, Senin (28/6). (Aldi)





