Berlian Dibuang, Kotoran Tetap Dikelola, Akhlaknya di Mana?

MINAT PASANG IKLAN DITULISAN INI SEGARA HUBUNGI TEAM MARKETING 🤗🤗🤗 Deskripsi gambar untuk SEO

OPINI | KLTV INDONESIA

Ada sebuah realita dalam kehidupan yang terkadang pahit untuk diakui: yang baik bisa saja dilepas, dibuang, bahkan dicampakkan, sementara yang buruk justru dipertahankan, dilindungi, dispesialkan, bahkan dipuji.

Bacaan Lainnya
info iklan - berminat langsung klik Chat WhatsApp

Mengapa?

Jawabannya terkadang sederhana, tetapi sekaligus menggelitik: kepentingan.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam memilih pendamping hidup, misalnya, seseorang bisa salah mengambil keputusan karena lebih mempertimbangkan kepentingan tertentu daripada melihat karakter, ketulusan, dan akhlak.

Begitu pula dalam memilih sahabat. Tidak jarang orang yang tulus justru dijauhkan, sementara mereka yang selalu mengiyakan, menyenangkan hati, atau memberikan keuntungan tertentu malah ditempatkan sebagai orang terdekat.

Lebih jauh lagi, fenomena serupa dapat terjadi dalam organisasi, lingkungan pekerjaan, bahkan dalam pengambilan kebijakan pemerintahan.

Orang yang memiliki kemampuan, integritas, dan rekam jejak yang baik bisa saja tersisih. Sementara mereka yang dianggap memiliki nilai kepentingan tertentu justru mendapatkan tempat istimewa.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah kita sedang memilih berdasarkan kualitas, atau berdasarkan kepentingan?

Sebab keputusan yang salah tidak selalu lahir karena seseorang tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Terkadang seseorang sebenarnya mengetahui bahwa pilihan itu kurang tepat, tetapi tetap memilihnya karena ada kepentingan yang ingin dicapai.

Yang baik akhirnya dilepas.

Yang buruk justru dipertahankan.

Yang kritis dianggap mengganggu.

Yang selalu mengangguk dianggap loyal.

Yang menyampaikan fakta dianggap tidak sejalan.

Sedangkan yang mampu menjaga kepentingan tertentu bisa mendapatkan perlakuan khusus.

Inilah realita yang terkadang terjadi dalam kehidupan.

Lebih ironis lagi ketika keputusan tersebut bukan sepenuhnya lahir dari pertimbangan objektif, tetapi karena adanya power atau kekuatan tertentu yang ikut mengarahkan keputusan dan kebijakan.

Ketika kekuatan tersebut terlalu dominan, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk berkata tidak.

Bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena takut kehilangan posisi, hubungan, fasilitas, pengaruh, atau kepentingan lainnya.

Pada akhirnya, prinsip perlahan dikorbankan.

Padahal, akhlak seharusnya menjadi rem ketika kepentingan mulai menguasai keputusan.

Akhlak bukan hanya persoalan bagaimana kita berbicara. Akhlak terlihat dari keberanian memilih yang benar meskipun pilihan tersebut tidak memberikan keuntungan kepada diri sendiri.

Akhlak terlihat ketika kita mampu memberikan kesempatan kepada orang yang memang layak, bukan hanya kepada orang yang dekat.

Akhlak terlihat ketika kita berani mengatakan bahwa sesuatu itu salah, meskipun yang melakukan kesalahan adalah orang yang memiliki pengaruh.

Dan akhlak terlihat ketika kita tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk membenarkan segala keputusan.

Karena jika setiap keputusan hanya didasarkan pada kepentingan, maka lama-kelamaan kebenaran akan kehilangan tempatnya.

Yang buruk bisa terlihat baik karena dipuji.

Yang salah bisa terlihat benar karena dilindungi.

Yang tidak layak bisa terlihat layak karena memiliki kepentingan.

Sementara yang baik justru harus pergi hanya karena tidak lagi dianggap menguntungkan.

Di sinilah metafora itu menjadi relevan:

Berlian dibuang karena dianggap tidak lagi berguna, sementara kotoran tetap dikelola karena dianggap memiliki nilai kepentingan.

Pertanyaannya kemudian:

Akhlaknya di mana?

Kehidupan memang penuh pilihan. Tidak semua keputusan akan benar. Tidak semua orang yang kita pilih akan sesuai harapan. Kesalahan dalam mengambil keputusan adalah bagian dari kehidupan.

Namun, ketika kesalahan tersebut terus dipertahankan hanya karena kepentingan, maka persoalannya bukan lagi sekadar salah memilih.

Persoalannya adalah keberanian untuk mengoreksi diri.

Sebab manusia yang berakhlak bukan manusia yang tidak pernah salah. Manusia yang berakhlak adalah manusia yang berani mengakui kesalahan, memperbaiki keputusan, dan tidak mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas keliru hanya demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Jangan sampai kita menjadi orang yang membuang berlian hanya karena tidak memahami nilainya, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak bernilai hanya karena merasa memiliki kepentingan terhadapnya.

Pada akhirnya, waktu akan menguji setiap keputusan.

Orang yang baik mungkin bisa disingkirkan.

Orang yang buruk mungkin bisa dilindungi.

Kepentingan mungkin bisa menang untuk sementara.

Tetapi rekam jejak akan berbicara.

Sebab posisi kita, bahkan kekuasaan tidak selamanya ada. Jabatan tidak selamanya melekat. Tidak Selamanya posisi di Atas, Kepentingan bisa berubah. Orang-orang bisa datang dan pergi.

Yang tersisa adalah bagaimana kita pernah mengambil keputusan dan nilai apa yang kita tinggalkan di tengah kehidupan.

Maka sebelum menentukan siapa yang dipilih, siapa yang dipertahankan, siapa yang dilepas, atau kebijakan apa yang harus dijalankan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah keputusan ini lahir dari akal sehat dan hati nurani?

Ataukah ada kepentingan dan kekuatan tertentu yang sedang menuntun arah keputusan kita?

Karena jika yang baik terus dibuang dan yang buruk terus dikelola hanya demi kepentingan, maka satu pertanyaan akan terus menggema:

“Berlian Dibuang, Kotoran Tetap Dikelola—Akhlaknya di Mana?”

Itulah realita kehidupan. Dan terkadang, realita yang paling pahit justru adalah realita yang paling perlu kita renungkan.

Opini ini merupakan refleksi penulis terhadap fenomena kehidupan sehari-hari dan tidak ditujukan sebagai tuduhan kepada individu, organisasi, atau institusi tertentu.

*RED

Deskripsi gambar untuk SEO DPP LIMAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI BAKTI ADHIAKSA PT GADAI MAS NUSANTARA
info iklan - berminat langsung klik Chat WhatsApp

Pos terkait

Promosi
dokter spesialis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *