Miris, 75 tahun Indonesia Merdeka, Masyarakat Manggarai Timur, NTT, Masih Gunakan Jembatan Titian Bambu

Klivetvindonesia.com, Manggarai Timur | 75 Tahun Indonesia Merdeka, Masyarakat Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, masih gunakan jembatan titian Bambu sebagai akses transportasi.

Pasalnya, Jembatan yang terbuat dari titian Bambu itu salah satu akses yang berada di Kali Wae Mapar yang menghubungkan antara Kampung Wirung, Desa Nanga Meje dengan wilayah kabupaten Nada.

Bacaan Lainnya

Selama 13 Tahun, Warga di wilayah itu terpaksa gunakan Jembatan Titian bambu dengan lebar 1 meter serta panjang diperkirakan 30 meter sebagai salah satu akses untuk bisa beraktivitas.

Pantauan media belum lama ini pada Jumat, (15/8/2020) Rangka pada bagian penyangga dan penyongkong Jembatan tersebut rusak parah bahkan hampir ambruk.

“Jembatan Titian Bambu ini hampir roboh. Karena stuktur fisik dan rangka kurang kokoh diakibatkan Karena hantaman aliran Air pada musim hujan”, ujar Antonius (39) Warga setempat.

Antonius menuturkan, kalau Jembatan Titian Bambu itu satu-satunya akses yang bisa digunakan masyarakat disini untuk bisa ke Kabupaten tetangga.

“Jembatan sudah berusia belasan tahun, dalam setiap tahunnya kami memperbaikinya secara bergotong royong,” bebernya.

Jembatan Titian Bambu Butuh Perhatian Pemerintah

Kepala Desa Nanga Meje, Arnoldus Sero Leko, menuturkan, kalau pembangunan jembatan ini sempat mendapatkan bantuan dari Bangdes di tahun 2012. Kemudian dana tersebut dipergunakan untuk pembuatan Jembatan besi secara darurat kala itu.

“Dalam perjalanannya, jembatan tersebut roboh diterjang arus air yang sangat deras. Sekarang hanya tersisa puing-puing bekas besi penyangga” katanya.

Kendati demikian Ia berharap, pembangunan jembatan Titian Bambu ini bisa secepatnya mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi NTT dan Pemda Matim, untuk dibangunkan secara permanen.

“Ini keluhan warga kami agar pemerintah daerah secepatnya dibuatkan jembatan baru dengan konstruksi yang lebih kokoh dan berukuran besar”, Ucap Arnoldus.

Dia berharap pemerintah daerah dan Pemprov bisa memberi perhatian serius terkait keluhan masyarakat di wilayah ini.

“Jujur selama ini sudah sering menyampaikan soal ini ke Pemerintah yang ditingkat atas, termasuk mengajukan Proposal ke Provinsi namun hingga saat ini belum ada jawaban,” tuturnya.

Diakuinya, orang-orang dari Kabupaten juga pernah datang untuk melihat langsung kondisi Jembatan tersebut, namun sampai saat ini belum memberi titik terang terkait keluhan warga disini.

“Masyarakat disini dengan terpaksa merawat dan menjaga jembatan yang sudah dibangun melalui gotong royong bersama, agar mobilitas tetap berjalan lancar meskipun tak bisa dilalui oleh kendaraan,” pungkasnya.

Penulis: Nandik Lalong
Editor. : Kevin Jorge

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *